Gue Serba Gratis

Informasi Gratisan Yang Bermutu

Artikel Post New Entry

Menggenggam Dunia, Menggapai Asa, Meraih Mimpi dengan Teknologi Telekomunikasi di daerah Pinggiran Kota & Pedalaman Indonesia

Posted by Diah Fitri Patriani on April 13, 2013 at 3:40 AM

Prospek telekomunikasi seluler di Indonesia

          Teledensitas atau tingkat penetrasi penggunaan perangkat telekomunikasi di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Menurut catatan ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) jumlah pengguna layanan seluler di Indonesia melalui 10 operator telekomunikasinya pada tahun 2010 diperkirakan telah menembus 180 juta pelanggan atau telah mencapai 80 persen jumlah penduduk di Indonesia. Sayangnya layanan telekomunikasi tersebut tidak secara merata dapat dirasakan sepenuhnya di daerah pinggiran apalagi pedalaman. Di daerah pinggiran kota saja seringkali kita kecewa dengan sinyal yang buruk dari pelayanan beberapa operator telekomunikasi sehingga komunikasi melewati telepon seringkali terputus-putus. Alternatif kedua untuk mengatasi masalah sinyal adalah melalui sms, namun tidak jarang sms pun juga mengalami kendala tidak dapat terkirim entah karena alasan sinyal yang buruk atau lalu-lintas jaringan yang padat.

          Amat disayangkan jika kualitas layanan operator telekomunikasi tidak dapat dinikmati secara maksimal khususnya pada masyarakat pinggiran dan apalagi masyarakat pedalaman yang minim sarana dan prasarana pembangunan. Mengingat betapa pentingnya manfaat perangkat telekomunikasi elektronik yang bisa kita peroleh pada saat ini. Layanan operator telekomunikasi ini tidak hanya memberikan jasa jaringan komunikasi melalui perangkat telekomunikasi seperti handphone, smarthphone dan sejensisnya akan tetapi dapat melayani kita untuk mengakses informasi di jaringan internet. Dengan layanan 3G, 3,5G, bahkan 4G yang mulai diperkenalkan sejak tahun 2008 oleh beberapa operator di Indonesia tidak terkecuali layanan operator XL Axiata, maka berbagai macam fungsi layanan jaringan tersebut dapat kita ambil manfaatnya untuk membantu dalam aktifitas keseharian kita, tidak sebatas menelfon dan sms saja akan tetapi kita dapat melakukan transfer data, mms, percakapan video, memanfaat situs jejaring sosial, mencari berita dan lain sebagainya melalui akses internet yang tersedia.

 

Peran operator telekomunikasi pada masyarakat pinggiran kota dan pedalaman.

          Jika tehnologi telekomunikasi dapat meningkatkan kualitas hidup sedemikian rupa lalu bagaimana halnya dengan fungsi operator telekomunikasi di daerah pinggiran kota dan pedalaman Indonesia, sejauh mana tekhnologi komunikasi ini dapat menjangkau mereka? Dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah di pinggiran kota dan pedalaman bisa memanfaatkan jaringan telepon maupun internet sebagai media bertukar informasi mengenai keadaan pendidikan di daerahnya sampai pada mencari bahan refereni penulisan ilmiah. Bahkan dengan internet, masyarakat pinggiran kota dan pedalaman yang haus akan pendidikan bisa terus melanjutkan sekolahnya di jenjang yang lebih tinggi dengan mengikuti kuliah jarak jauh.

          Dalam bidang perekonomian layanan operator telekomunikasi bisa dimanfaatkan sebagai aktifitas transaksi bisnis baik memanfaatkan akses telepon, HP sampai akses internet. Misalnya bagi petani, setidaknya internet bisa dimanfaatkan untuk mencari informasi yang berkaitan dengan bidangnya, mulai dari proses bercocok-taman sampai pada tahapan menjual hasil panennya. Bahkan dengan layanan internet petani bisa memanfaatkan layanan jual-beli online yang marak dewasa ini, sehingga memungkinkan produk pertaniannya dikenal lebih luas tidak saja di Indonesia bahkan seluruh dunia. Kemudian dengan telepon dan telepon seluler orang-orang yang tertarik dapat menghubungi langsung pada petani yang bersangkutan untuk melakukan transaksi jual-beli. Secara ekonomi akan menambah omset pendapatan dan peningkatan kualitas hidup.

          Besarnya jumlah penduduk Indonesia yang tersebar diseluruh pelosok bumi nusantara ini, khusus meliputi pinggiran kota sampai pedalaman Indonesia harus dilihat oleh penyelenggara pertelekomunikasian sebagai peluang yang terbuka lebar meraih banyak pelanggan baru. Hal ini menjadi pr besar yang harus menjadi program kerja para pelaku pertelekomunikasian, baik para pengusaha yang bergerak di bidang operator telekomunikas sampai pada pengusaha yang menyewakan menara telekomunikasi ke beberapa operator telekomunikasi. Sebagai contoh kasus, penulis pernah punya pengalaman tinggal di wilayah Utara kabupaten Sangata Kalimantan Timur tepatnya di kecamatan Bengalon, masyarakat disana hampir tidak punya pilihan dalam memanfaatkan tehnologi telekomunikasi ini karena tidak tersedia jaringan telepon dan komunikasi hanya mengandalkan layanan telpon seluler dengan kualitas sinyal yang buruk bahkan untuk menelpon saja hanya bergantung pada kondisi cuaca. Tiga Operator telekomunikasi yang mampu ditangkap sinyalnya di daerah tersebut hanya xl , indosat dan telkomsel saja itupun dengan kualitas sinyal yang kurang bagus. Namun semakin kedalam maka hampir mustahil kita bisa menangkap sinyal kecuali mencari dataran tinggi sekedar untuk berkirim sms karena hampir mustahil bisa menelpon dengan kualitas sinyal yang baik di daerah pedalaman. Sejak jaringan beberapa operator telekomunikasi ini bisa ditangkap di daerah pinggiran kota seperti Bengalon kegiatan bisnis mulai menggeliat karena beberapa usaha yang berkaitan dengan transportasi seperti travel sampai perbankan mulai dapat memanfaatkan layanan operator telekomunikasi ini. Usaha penjulan tiket pesawat terbang salah satu contohnya, sejak jaringan operator telepon seluler bisa ditangkap di daerah Bengalon maka para pelaku usaha travel mulai bisa mengakses sendiri secara online di internet sehingga tidak perlu lagi menelpon rekanannya sesama pengusaha travel yang berada di luar Bengalon. Menggeliatnya usaha perbankan di Bengalon, sejak didirikannya mesin ATM BRI pada tahun 2010 disusul dua tahun kemudian ditempatkannya cabang bank BNI beserta mesin ATM nya, maka masyarakat sekitar baik pekerja kelapa sawit, pekerja tambang sampai pelaku usaha disana tidak perlu jauh-jauh menempuh perjalanan ke kota kabupaten melewati jalan yang rusak berat sekedar mengambil gaji bulanan atau transaksi bisnis lainnya. Akan tetapi kualitas jaringan operator telekomunikasi harus terus ditingatkan agar setiap melakukan transaksi online tidak harus melalui proses loading yang lama. Mesin ATM pun kerap mengalami trouble karena masalah jaringan ini. Masyarakat pinggiran Kalimantan Timur dan daerah-daerah pinggiran lainnya di Indonesia mengharapkan kepedulian pihak pemerintah sebagai regulator dan pengusaha operator telekomuniksi untuk terus meningkatkan layanannya agar bisa menjangkau setiap sudut NKRI yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.


Bagaimanakah perkembangan telekomunikasi ini bisa terjadi di suatu daerah namun tertinggal di daerah lain?

          Hingga tahun 2008, sebagian besar (86 %) dari infrastruktur yang ada terdapat di Sumatera, Jawa dan Bali ...hanya 14 % infrastruktur eksisting terdapat di wilayah Indonesia timur. Kesenjangan infrastruktur juga terjadi antara wilayah perkotaan dan pedesaan...Jabodetabek dan daerah perkotaan lainnya...telah mencapai 35% dan 11-25%, sedangkan wilayah pedesaan baru mencapai 0,25%. Pertumbuhan telekomunikasi bisa berkembang pesat di sebuah masyarakat karena terdapat aspek supply dan demand yang seimbang. Mengutip mengenai penjelasan supply-demand, menurut Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (Artikel: Rencana Strategis Tahun 2010 s/d 2014) '...Supply yang terkait dengan kemampuan pembangunan penyedia infrastruktur telekomunikasi....Demand yang terkait dengan kebutuhan masyarakat pengguna.... . Sehingga jika supply dan demand seimbang maka masyarakat siap dan mampu untuk mengakses serta memanfaatkan teknologi yang ditawarkan para operator telekomunikasi di daerahnya. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi secara seimbang maka yang terjadi adalah ketertinggalan pertumbuhan pertelekomunikasian, muncullah kesenjangan yang tajam tidak saja di bidang pertelekomunikasian namun merambat ke persoalan ekonomi dan sosial lainnya, salah satu contoh dari kesenjangan tersebut adalah munculnya isu pertahanan keamanan yang kerap terjadi di Republik Indonesia ini yang mengancam keutuhan NKRI. Alasannya klasik, karena pemerintah kita terlalu fokus pada pembangunan terpusat hingga daerah pinggiran yang tersebar di seluruh nusantara ini terabaikan dalam pembangunan. Dari data yang diperoleh tahun 2005 (sumber: berita resmi statistik no. 42/IX/14 Agustus 2006) memperlihatkan bahwa dari keseluruhan jumlah rumah tangga di Indonesia sebesar 58,8 juta rumah tangga menunjukkan kecenderungan sebanyak 7,7 juta (13,11 %) telah memiliki telepon, dan 6'6 juta diantaranya adalah rumah tangga di perkotaan. Sebanyak 11,7 juta (19,96%) di Indonesia sudah mempunyai HP dan sekitar 9,0 juta rumah tangga yang memiliki HP berada di perkotaan. Dapat disimpulkan sementara bahwa dari seluruh jumlah rumah tangga di Indonesia hanya setengahnya saja sebesar 29,4 juta dari total 58,8 juta yang menikmati fasilitas telekomunikasi itupun 90% diserap di daerah kota. Rendahnya daya beli masyarakat pedesaan terhadap perangkat telekomunikasi tidak semata-mata disebabkan karena faktor kemiskinan akan tetapi lebih dikarenakan ketiadaan infrastruktur telekomunikasi yang ada di daerah pedesaan. Karena faktanya dari sekitar 72 ribu desa yang ada di Indonesia, 38,471 diantaranya belum terjangkau fasilitas telekomunikasi.

          Menurut penulis ada tiga hal penting yang mendasar dalam pembangunan yaitu adanya tiga peranan besar yang tidak dapat terpisahkan antara Negara-Pasar- Masyarakat Madani. Ketiga peran ini harus bersinergi satu dengan yang lain sehingga tercipta iklim persaingan bisnis yang sehat dan pembangunan yang dapat memenuhi hajat hidup setiap individu manusia Indonesia. Lepas dari persolan politik, penulis mengartikan Negara lebih kepada peran pemerintah sebagai regulator. Dimana pemerintah mempunyai peran sebagai wadah yang mengayomi pengusaha dengan memberikan kemudahan-kemudahan dalam regulasi yang masih pada koridor kebijakan publik yang tetap menguntungkan para masyarakat konsumen operator telekomunikasi diIndonesia. Pasar lebih dilekatkan pada peran pelaku usaha khususnya dalam hal ini adalah pengusaha yang bergerak di bidang pertelekomunikasian. Adalah kelompok pengusaha yang memiliki modal untuk menginvestasikan uangnya di bidang telekomunikasi demi tujuan profit. Masyarakat Madani dalam kontek ini lebih dilekatkan kepada kelompok masyarakat yang menjadi konsumen dari operator telekomunikasi.

 

Negara (Pemerintah)

          Negara-Pasar-Masyarakat Madani mempunyai hubungan timbal balik yang satu dengan lainnya saling berpengaruh. Berkaitan dengan pertelekomunikasian, regulasi yang digulirkan pemerintah mengenai pertelekomunikasian haruslah dilihat dari kepentingan publik sebagai konsumen dan para pelaku usaha yang keduanya di atur secara seimbang. Lembaga-lembaga Pemerintah yang mengatur telekomunikasi seperti postel, depkominfo dan atau lembaga independent lain seperti BRTI harus benar-benar objektif dan tidak berat sebelah.

          Pemerintah juga memberikan peluang bagi pelaku usaha pertelekomunikasian lainnya diIndonesia melakukan kerjasama global dengan Negara-negara maju produsen teknologi. Sehingga dengan cara sedemikian rupa Indonesia dapat berbagi proses produksi produk TIK khususnya aplikasi software dan perakitan akhir. Harus dibuat sebuah kebijakan yang kebijakan-kebijakan yang memudahkan bagi para pengusaha yang bergerak di bidang pertelekomunikasian untuk sesegara mungkin dapat menjalankan usaha manufacturing TIK guna program jangka panjang. Kemudian secara perlahan mengatur juga sebuah regulasi yang bijak tentang impor produksi hi-tech oleh para importer yang notabene hanya bersifat jangka pendek sekedar mencari keuntungan semata tanpa melihat aspek lain yang lebih penting yaitu penciptaan lowongan kerja bagi masyarkat Indonesia.

          Dan yang perlu dijadikan pertimbangkan mendalam adalah mulai menfokuskan pembangunan sarana dan prasaran publik yang berkualitas di daerah pinggiran kota dan pedalaman seperti akses jalan yang baik, pasar lokal dan perbankan sehingga menarik para investor untuk dapat membangun usaha mereka didaerah tersebut dengan perhitungan cost yang tidak terlalu mahal karena pemerintah telah menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai. Agar proyek-proyek berjalan sesuai dengan prosedur maka diupayakan untuk membuka tender bagi semua pihak yang berkompeten sesuai dengan Undang-undang Nomor 36/1999 dan nomor 5/1999 tentang telekomunikasi, meniadakan monopoli dan mengijinkan kompetisi bagi operator jaringan lain untuk ikut serta bersaing memasarkan produknya dengan berbagai kemudahan, persaingan harga dan fitur-fitur yang dapat dinikmati dan terjangkau oleh masyarakat dari berbagai golongan.


Pasar (Operator Telekomunikasi )

          Jika pemerintah telah melakukan upaya-upaya strategis melalui regulasi yang kondusif dan membangun sarana dan prasarana umum di daerah-daerah pinggiran dan pedalaman maka para pengusaha operator telekomunikasi tinggal melakukan program-program terobosan yang telah menjadi rencana dasar perusahaan mereka sebagai tanggung-jawab sosial terhadap masyakat Indonesia. Kontribusi yang diberikan haruslah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pinggiran dan pedalaman. Program-program tersebut bisa meliputi Program jangka panjang dan jangka pendek.

Program Jangka panjang

Misalnya program yang bersifat jangka panjang dan berkesinambungan yaitu antara lain:

-Dalam hal meningkatkan kualitas layanan telekomunikasi yang lebih merata operator telekomunikasi seperti XL Axiata dapat membangun infrastruktur jaringan kabel laut yang telah dirintis di pulau Batam ke Johor Malaysia pada tahun 2007, yang memungkinkan didirikan lagi infrasturktur yang sama di beberapa daerah lain di Indonesia. XL Axiata juga membangun infrastruktur jaringan serat optik di daerah lain diluar pulau Jawa, seperti yang sudah berjalan di beberapa kota besar pulau Jawa. Sehingga dengan tekhnologi yang dimiliki perusahaan operator telekomunikasi seperti XL Axiata dapat menjangkau seluruh daerah kepulauan yang terjauh dan daerah pedalaman di Indonesia.

- Program komputer untuk sekolah. Jika XL Axiata telah merintis program tersebut sejak tahun 2008, maka di tahun 2013 ini XL Axiata semoga bisa melebarkan area programnya ke daerah-daerah timur Indonesia yang notabene juga perlu untuk pembenahan pertelekomunikasian yang masih jauh tertinggal.

-Program perpustakaan berjalan dan taman bacaan, program ini pun telah dirintis XL Axiata pada proyek percontohan yang baru terealisasi di sekitar Jakarta dengan meluncurkan mobil perpustakaan dan sumbangan buku-buku untuk program taman bacaan. Diharapkan juga bahwa program-program tersebut dapat menyentuh lapisan masayarakat yang berada di pinggiran kota dan pedalaman di Indonesia.

-Program beasiswa untuk anak-anak di daerah pinggiran kota dan pedalaman.

-Memfasilitasi jaringan internet dan edukasi tehnologi komputer jaringan secara gratis selama periode tertentu kepada pelaku usaha yang berminat membuka usaha warnet dan PPOB atau layanan pembayaran listrik , telepon, isi pulsa secara online dan usaha sejenis lainnya yang memang belum berdiri di daerah bersangkutan.

Program Jangka pendek

          Disamping menjalankan program jangka panjang operator telekomunikasi juga menentukan program jangka pendek yang sifatnya sementara namun mengena pada masyarakat yang membutuhkan, misalnya memberi bantuan atau sumbangan atas beberapa daerah yang terkena bencana alam tidak menutup kemungkinan bencana yang diakibatkan oleh konflik sosial lain. Harapan dari program jangka pendek bagi perusahaan operator telekomunikasi sebesar XL Axiata adalah produk XL lebih dikenal oleh masyarakat dan selanjutnya masyarakat akan terus membeli produk merek XL.


Masyarakat Madani

          Masyarakat Pinggiran dan pedalaman sebagai konsumen pengguna layanan operator telekomunikasi harus terus belajar menyuarakan aspirasinya dan berfikir kritis untuk ikut mengawasi proses pembangunan terkhusus pada pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Membentuk sebuah kelompok masyarakat mandiri yang dapat menjadi agen perubahan di daerahnya dan benar-benar mewakili kepentingan masyarakat setempat. Agen-agen ini kemudian menjalin kerjasama dengan pihak operator seluler sebesar XL Axiata dalam bentuk kemitraan. Sehingga dengan infrastruktur yang dibangun XL Axiata di daerah mereka ditindak lanjuti dengan pembangunan fasilitas umum secara swadaya yang berguna bagi kemajuan penduduk setempat. Fasilitas umum yang dimaksud bisa berupa program komputerisasi dengan jaringan internet di sekolah, warnet sampai usaha jasa dan industry kecil.

          Kelompok masyarakat yang dimaksud bisa berasal dari berbagai kalangan dari pelajar, para santri, ulama, lurah, camat sampai pelaku usaha jasa dan industry kecil. Kelompok masayarakat madani inilah yang nantinya dapat menjadi pelopor penggerak pembangunan di daerahnya dengan menjalin kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak operator telekomunikasi. Sehingga tercipta komitmen kerjasama yang dapat dipertanggung- jawabkan untuk masa sekarang dan yang akan datang.

          Demikianlah review mengenai Peran operator telekomunikasi dalam memajukan pendidikan dan perekonomian didaerah pinggiran kota dan pedalaman Indonesia beserta solusi dari penulis. Misi dari tulisan ini menjadi masukan bagi pemerintah selaku regulator, operator telekomunikasi dan masyarakat pelaku agen-agen perubahan, menjadikan tulisan ini sebagai bahan pertimbangan dalam melaksanakan rencana pembangunan di daerah pinggiran dan pedalaman di Indonesia. Sehingga masyarakat Indonesia dapat menggenggam dunia dan mengejar asa dengan manfaat dari tehnologi telekomunikasi tersebut.

Categories: Sudut Pandang

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments