Gue Serba Gratis

Informasi Gratisan Yang Bermutu

Artikel Post New Entry

Merentang Hukum Poligami dalam Aspek Sosiologi dan Terminologi Islam

Posted by Diah Fitri Patriani on January 27, 2014 at 2:50 AM

Assalammualaikum Wr.Wb 

Dengan bersandar pada keyakinan pada agama Islam, pada keagungan Allah dan Rasulnya Muhammad Saw. dan karena resah melihat merebaknya artikel mengenai penghujatan dan penghinaan tentang agama Islam yang dilakukan oleh orang-orang non muslim pada sebuah situs di dunia maya dan mungkin terdapat dibeberapa media lain yang luput dari sorotan, pada para intelektual muslim yang minder pada perkara ini, pada kaum feminis yang antipati bahkan jijik pada poligami yang dituding sebagai budaya Islam.

 

Sesungguhnya tidaklah bijak mendeskriditkan perkara poligami sebagai biang kerok dari persoalan perceraian, penindasan kaum perempuan, kenakakalan remaja dan lain sebagainya. Jikalau mengerti tentang sejarah poligami itu sendiri maka tentu tidak ada lagi tempat untuk setiap pihak baik non muslim maupun para intelektual muslim yang minder bahkan orang awam sekalipun mengkait-kaitkan ini dengan konflik sosial di masyarakat. Keresahan saya pun semakin dalam manakala nabi Muhammad Saw. difigurkan sebagai sosok pezina, hipersex, pendosa dan lain sebagainya. JIkalau mengerti bahwa penghkhususan beliau  bagi perkara poligami ini dengan beristri lebih dari empat sementara umatnya hanya dibatasi pada bilangan empat saja adalah semata-mata karena memiliki hikmah yang dalam untuk kemaslahatan umat di jamannya, maka tak ada lagi tempat bagi setiap orang terutama orang muslim sendiri untuk tak ragu dalam keyakinan. Menjadi orang Islam disamping dituntut memiliki aqidah yang kuat yaitu keyakinan yang bulat bundar namun juga dituntut untuk mampu menjaga akhlaq yang baik sehingga tidak menimbulkan cela bagi diri dan agamanya. Artinya segala perkara sebelum diputuskan dan apalagi dijalankan harus paham ilmunya sehingga diketahui konsekuensinya bukan mencari-cari syarat-syaratnya semata.

 

Inilah sudut pandang saya sebagai seorang muslimah tentang hukum poligami ditarik dari aspek Sosiologis dan terminologi Islam, semoga artikel ini dapat menjadi tambahan wawasan dan manfaat bagi pembacanya.

 

Sejarah Poligami dan Aspek Sosiologis

Jauh sebelum Islam hadir sebagai agama samawi  terakhir dan sebelum nabi Muhammad Saw. mendapat mandat kerasulannya, budaya poligami sudah ada dan menjadi sebuah kebiasaan yang dibolehkan. Pada saat itu poligami banyak dilakukan oleh kaum raja yang dilambangkan sebagai wakil tuhan sehingga  perbuatannya itu dianggap suci. Bahkan nabi-nabi terdahulu pun menganut pola perkawinan poligami ini. Perilaku poligami oleh para nabi-nabi ini dinubuatkan melalui alkitab terjemahan Ende tahun 1970 (Keluaran 21:10)

10. "Kalau ia mengambil untuk dirinya perempuan lain, tidak boleh ia mengurangi (untuk isteri pertama) nafkahnya, pakaiannya dan percampuran dengan dia".

 

Di jaman nabi Dawud.a.s, beliau juga mempunyai istri banyak. Sejumlah kaum yahudi ahli di bidang agamanya menganjurkan agar setiap pria beristri tidak lebih dari empat orang. Tapi golongan yahudi QURRA (salah satu golongan dalam masyarkat yahudi) tidak mengakui keabsahan pembatasan jumlah istri. Alasannya, karena agama Bani Israil membolehkan seorang lelaki mempunyai istri berapa saja tanpa batasan.

 

Dalam tradisi kristen sebelum aturan Yustinus  yaitu peraturan Romawi di jaman Paus Leo XIII tahun 1866 yang pada akhirnya direvisi oleh pihak gereja dari 'kitab perjanjian lama' ke 'kitab perjanjian baru', perkawinan poligami juga dijalankan oleh para pemeluknya. Sebagaimana Peraturan poligami di kitab perjanjian lama "Ulangan 21:15"

"Apabila seorang mempunyai dua orang isteri,  yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai_"

 

Pada alkitab lain (lihat:www.sabda.org) bahwa perkawinan poligami diceritakan atas beberapa nabi seperti nabi Yakub punya empat istri, yaitu Lea, Rahel, Bilha dan Zilpa (Kejadian 29:31-32, 30:34, 30:39), Esau (anak nabi Yakub) menikahi dua gadis Kanaan yaitu Ada dan Oholibama (Kejadian 36:2-10), Nabi Musa memiliki dua istri. bernama Zipora dan wanita dari suku Kush (Keluaran 18:2 dan Bilangan 12:1),Nabi sulaiman (raja salomon) memiliki ratusan istri (I Raja-raja:1-3),Anak kandung Nabi Sulaiman, Rehabeam, memiliki 18 istri yang memberinya 28 anak laki-laki dan 60 perempuan (2 Tawarikh 11:21), Nabi Daud memiliki banyak istri, diantaranya Ahinoam, Abigail, Maacha, Hadjit, Edjla, Michal dan Batsyeba ,(I Samuel 25:43-44,27:3,30:5, II Samuel 3:1-5, 5:13, I Tawarikh 3:1-9, 14:3, II Samuel 16:22)



Budaya Poligami pun merentang sampai kepada kebiasaan para raja-raja di tanah nusantara, seorang raja bisa memiliki permaisuri dan para selir yang tak terbatas sekehendak raja. Bahkan kondisi demikian pun pernah dialami Kartini ketika dinikahi seorang priyayi yang  menjabat sebagai bupati Rembang dan telah memiliki 3 orang istri dan 6 anak.



Di masayarakat Persia (masa sebelum Islam) ada penghargaan pada lelaki yang mempunyai istri lebih dari satu. Di benua Eropa dan Asia, poligami merupakan tradisi yang sudah tersebar. Masyarakat Yunani berperadaban tinggi memandang istri sebagai milik suami, dan berhak menjual istrinya sebagai budak kepada lelaki manapun.

 

Dikalangan masyarakat Athena , kaum wanita bahkan dianggap sumber dosa dan malapetaka bagi kaum pria. Wanita tidak boleh mengerjakan apapun selain melayani suami dan melahirkan anak. Masyarakat Sparta Tidak membolehkan lelaki mempuyai istri lebih dari seorang, kecuali dalam keadan tertentu. Sebaliknya wanita wanita boleh mempunyai suami lebih dari seorang.

 

            Di kalangan masyarakat Arab jahiliyah mereka teramat benci pada perempuan sehingga bayi-bayi perempuan dibunuh. Wanita-wanita dianggap sebagai aib. Suku arab yang suka merendahkan perempuan adalah suku Quraish dan Kinda. Selain poligami bentuk-bentuk perkawinan asli masyarakat Arab sebelum Islam adalah  'Zawaj al mut'ah yaitu perkawinan sementara waktu untuk tujuan menikmati seks sementara. dan 'zawaj al hibah' yaitu pernikahan pengorbanan perempuan terhadap laki-laki, perempuan dalam pernikahan jenis ini tidak memiliki hak apapun. (Sumber: Menimbang Dalil Poligami, Anik Farida, 2000).

 

          Demikianlah budaya poligami jika direntang sejarahnya dari Barat sampai Timur, dari Yunani, Persia sampai Nusantara. Poligami pun dilakukan oleh nabi Muhammad Saw. pada masanya, setelah  istri pertama Khadijah r.a.. wafat pada tahun kesebelas pasca kenabian atau tahun 620M. Sejak menikah dengan Khadijah r.a. beliau belum memikirkan untuk berpoligami padahal saat itu poligami sudah menjadi tradisi kalangan masyarakat Arab. Beliau berumah tangga selama 17 tahun dengan Khadijah r.a sebelum diangkat sebagai rasul dan berlangsung selama 11 tahun  setelah diangkat kerasulannya sampai Khadijah r.a wafat. Setelah istri pertama wafat Nabi Saw memutuskan untuk menikah kembali dengan meminang Aisyah binti Abu Bakar, putri sahabatnya. Akan tetapi pernikahan dengan Aisyah r.a. beliau belum tinggal serumah karena Aisyah masih berusia  enam tahun kecuali setelah tiga tahun kemudian ketika beliau telah hijrah ke Habsyah. Dapat dimengerti wanita pada jaman dulu memiliki kekhususan pada watak kedewasaan dibanding wanita jaman sekarang sehingga pada usia sembilan tahun wanita telah haid, secara psikologi dan fisik lebih siap menjalani hidup berumah tangga disamping tuntutan budaya yang berlaku demikian.

 

Kemudian beliau menikahi Saudah binti Zum'ah janda mendiang Sukran ibn 'Amr ibn 'Abdi Syams. Saudah bukanlah wanita muda yang cantik jelita dan bukan pula wanita kaya. Rasulullah Saw menikahi Saudah dalam rangka mengangkat kedudukan serta meninggikan martabatnya menjadi Ummul Mukmin. Pada akhir tahun kedelapan hijriah ayat mengenai pembatasan jumlah poligami diwahyukan pada beliau sementara Nabi Saw. telah mengumpulan 10 orang istri pada waktu itu.

 

Sebagaimana terdapat pada surat an-Nisa di bawah ini:

“ Dan jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja, atau seorang hamba perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah yang lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (akan terjauh dari penyelewengan) “. QS. An-Nisa:3.

 

            Ayat tersebut jelas menetapkan pembatasan jumlah istri, yaitu tidak boleh lebih dari empat istri,( karena orang Arab pada jaman dulu bisa beristri banyak, apalagi bagi orang yang berkuasa, mereka mempunyai HAREM ) dan dengan sarat harus berlaku adil. Namun keadilan dalam hal ini adalah amat sukar, oleh sebab itu Allah mengingatkan dengan fimanNya.

“ Dan kalian tidak akan sanggup berlaku adil terhadap istri istri kalian, kendati kalian sendiri ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kalian terlalu condong (kepada yang kalian senangi) hingga yang lain kamu biarkan terkatung katung…. “QS. An-Nisa:129.

 

Tidak layak menjadi pertentangan ketika Rasulullah tidak menceraikan satupun istri-istri beliau karena sikap demikian menjadi penghkususan beliau tidak untuk yang lain sebagaimana terdapat pada Al-qur'an surat al-Ahzab (33):50.

"Wahai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya; hamba-hamba sahaya yang kamu miliki yang merupakan apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah kepadamu; anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu; anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu; anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersamamu; dan perempuan Mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu,dan tidak untuk orang-orang Mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu." (QS al-Ahzab (33):50

 

Hamba sahaya yang dimaksud adalah istri-istri beliau dari rampasan perang seperti Juwariyah binti al-Harits ibn Abi Dharar. pernikahannya dengan Juwariyah ini dalam rangka mempererat hubungan dengan ayahnya dari Bani Mushthaliq dan mengangkat kedudukan Juwariyah sendiri sebagai tawanan perang sehingga membebaskannya dari perbudakan. Ayah Juwariyah adalah seorang pemimpin Bani Mushthaliq yang datang untuk menebus putrinya lalu ia pun masuk Islam dan membawa putrinya dihadapan Nabi dan Juwariyah pun ikut memeluk Islam mengikuti ayahnya. Nabi Saw. kemudian melamar dan menikahinya. Contoh istri beliau dari rampasan perang lainnya adalah salah seorang tokoh Yahudi yaitu Shafiyah binti Huyay ibn Akhthab.

 

            Anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu - dari saudara laki-laki ibumu dan dari saudara perempuan ibumu yang dimaksud adalah istri beliau yang masih ada pertalian keluarga baik dari saudara laki-laki bapak, saudara laki-laki maupun perempuan dari ibu sebagaimana istri beliau yang bernama Maymunah dan Zaynab binti Jahsyi.

 

            Dari nash-nash yang telah dijelaskan diatas maka runtuhlah segala penyangkalan, penghinaan pada Nabi Saw tentang masalah wanita-wanita hamba sahaya yang dituduhkan sebagai gundik beliau disamping istri-istrinya yang sah. Sesungguhnya beliau tidak menyentuh wanita-wanita yang bukan mukhrimnya tidak terkecuali para tawanan perang yang secara otomatis kedudukannya menjadi seorang hamba sahaya yang kemudian beliau angkat martabatnya dengan menikahi wanita-wanita tersebut dan mengauli mereka dengan cara yang halal.

 

 

Latar Belakang Turunnya Wahyu Mengenai Pembatasan Poligami   

            Dari sejarah yang telah dijelaskan di atas membuktikan, justru Islamlah yang menetapkan pembatasan istri yang boleh dipunyai oleh kaum lelaki. Disertai syarat adilt yang sesungguhnya niscaya untuk dapat dilaksanakan oleh laki-laki selain Nabi Saw. Mengapa demikian, karena sudah menjadi watak alamaiah manusia yang senantiasa terlalu condong, terlalu royal atau berlebih-lebihan, sebagaimana dijelaskan Al-quran An-Nisa (4):129

"Oleh karena itu, janganlah kalian terlalu condong (kepada yang kalian cintai)"

 

Potongan ayat di atas merupakan penjelasan dari ayat sebelumnya yaitu an-Nisa (4): 129

"Kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil"

 

            Jikalau ada umat nabi Muhammad Saw. yang hendak melakukan poligami maka dicukupkan pada batasan empat saja dengan konsekuensi yang berat jika tak dapat berlaku adil pada istri-istri yang lain salah satunya adalah perceraian dan penelantaran. Sehingga  penting adanya hukum mengatur perilaku ini. Allah jelas maha tahu apa yang menjadi ketetapannya dibanding kita manusia yang hanya menjadi hambanya semata. Allah pasti telah mengukur kemampuan manusia dalam memikul beban kehidupan ini. Jikalau poligami tidak diatur secara syar'i dan segala pola tingkah laku kita dalam ruang lingkup pribadi dan sosial masyarakat tidak ada aturannya maka bisa dibayangkan dunia ini akan dipenuhi oleh kekejian, kerusakan dan ketidakadilan yang pada akhirnya berakhir pada kebinasaan bagi kaum yang tertindas, kaum dalam konteks ini adalah keberadaan wanita akan terus diperlakukan semena-mena karena berlangsungnya perilaku poligami tanpa batas. 

 

            Bagaimana halnya dengan hukum poligami? apa yang melatarbelakangi hukum ini diturunkan Allah Swt. Sementara diturunkan ayat itu justru ketika Rasullullah telah mengawini kesebelas istri belliau, tepatnya delapan tahun setelah beliau menggauli kesemua istrinya.

 

            Terdapat penjelasan Sosiologis yang dapat ditarik dari latar belakang turunnya ayat mengenai pembatasan poligami pada bilangan 4, merujuk pada firman Allah surat al-Nisa’ ayat 3 berbunyi 

"Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu khawatir tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu meiliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."

 

            Para ulama fiqh sepakat bahwa kebolehan poligami dalam perkawinan didasarkan pada firman Allah Swt. surat al-Nisa’ ayat 3 diatas. Ayat 3 al-Nisa’ ini masih ada kaitannya dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 2 al-Nisa’. Ayat 2 mengingatkan kepada para wali yang mengelola harta anak yatim, bahwa mereka berdosa besar jika sampai memakan atau menukar harta anak yatim yang baik dengan yang jelek dengan jalan yang tidak sah ; sedangkan ayat 3 mengingatkan kepada para wali anak wanita yatim yang mau mengawini anak yatim tersebut, agar si wali itu beritikad baik dan adil dan fair, yakni si wali wajib memberikan mahar dan hak-hak lainnya kepada anak yatim wanita yang dikawininya. Ia tidak boleh mengawininya dengan maksud untuk memeras dan menguras harta anak yatim atau menghalang-halangi anak wanita yatim kawin dengan orang lain.

 

            Za'id ibn Zubair memberikan komentar bahwa QS al-Nisa (4):3 merupakan ancaman bagi mereka yang tidak mampu berbuat adil terhadap anak yatim dan perempuan lainnya. (sumber: Menimbang Dalil Poligami; hal 26).

 

            Disamping perkara adil yang dituntut terhadap anak yatim dan perempuan lain, pembolehan poligami dikarenakan menimbang suatu kondisi saat itu dan dimasa yang akan datang dimana terdapat jumlah yang tidak seimbang antara perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

 

            Sebagai seorang muslimah saya sadar bahwa aturan pembolehan ini masuk akal karena Allah maha mengetahui segala urusan secara akurat tanpa ada kesalahan sekecil apapun. Dan menyadari kehilafan saya bahwa perpecahan dalam rumah tangga yang pernah saya alami dalam beberapa tahun lalu tidak ada hubungannya dengan aturan poligami ini akan tetapi kedangkalan ilmu yang tidak dikuasai oleh para suami istri.

 

            Sedikit berbagi dengan pengalaman saya yang mungkin mewakili rumah tangga broken home lainnya karena hal perceraian, karena suami meminta untuk menikah lagi sehingga tanpa pertimbangan ilmu yang matang, tanpa melihat besarnya konsekuensi dari keputusan menjalani kehidupan rumah tangga dengan model pernikahan poligami, jika pemenuhan terhadap keadilan dalam takaran dhohir (fisik) tidak bisa dipenuhi oleh seorang laki-laki konsekuensinya adalah terjadinya penelantaran pada istri yang lain dan jika itu berlangsung tanpa penyelesaian maka yang terberat adalah perceraian. Lalu siapa yang patut disalahkan Allah atau para lelaki yang fasik ini?

 

            Kaum feminisme jelas tidak akan pernah puas dengan penjelasan seperti ini yang mungkin akan dilabel oleh mereka sebagai "Cinderela Syndrom". Hingga mirisketika membaca sebuah majalah Gey Nusantara di dalamnya seorang istri lebih rela suaminya menyalurkan hasrat sexsual dengan sesama lelaki asal tidak kawin lagi atau perbincangan dengan kaum ibu yang lebih rela suaminya jajan dengan PSK ketimbang kawin lagi. Lalu saya berfikir inilah manusia dihamparkan kemudahan bagi hambanya maka manusia justru menzdolimi diri sendiri. Atau ibu-ibu rumah tangga yang cinta mati hingga benar-benar mengakhiri hidupnya ketika suami lebih memilih madunya daripada dirinya sendiri. Semakin parah keadaan ketika para pakar agama, para akademisi bertarung argumentasi yang satu menghalalkan dengan syarat dan yang lain mengharamkan sesuatu yang halal sehingga makin bingunglah orang-orang Islam puritan yang tak semuanya paham tentang agamanya sendiri. Makin beruntunglah celah ini dipakai oleh kaum non muslim untuk menyerang keragu-raguan diatara umat Islam.

 

            Padahal dalam kapasitas saya sebagai insan Islam yang sedang belajar melihat hukum syar'i dan figih itu dua hal yang berbeda.  Syari’ah adalah wahyu itu sendiri yang belum tercampuri oleh daya nalar manusia. Oleh sebab itu ia bersifat tsubut (tetap) dan tidak berubah. Sementara fiqh adalah hasil dari proses penalaran (pemahaman) mujtahid terhadap wahyu. Karena itu, ia bersifat tathawur (berkembang), bervariasi sesuai dengan tingkat kemampuan daya nalar mujtahid. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hukum Islam lebih luas dari syar’ah dan fiqh. Hukum Islam sebagai wahyu Allah (belum tercampuri daya nalar manusia) adalah syari’ah. Hukum Islam sebagai pemahaman terhadap wahyu adalah fiqh. Dalam keterpaduan dua sifat ini (dimensi) inilah hukum Islam bisa bertahan sepanjang masa dan berkembang, tidak kaku dalam berbagai situasi dan kondisi sosial.

 

            Jika demikian kekhazanahan berfikir mengenai persoalan Poligami dikalangan umat Islam  harus diambil dalil fiqh dari sanad mujtahid yang paling kuat dan itu menjadi tugas negara untuk menetapkannya dalam rangkaian undang-undang positif yang berlaku, namun tetap dalam tataran  hukum syar'i (hukum Allah) karena mayoritas beragama di Indonesia adalah umat Islam sehingga masuk akal hukum yang berlaku adalah hukum yang mewakili umat Islam.

 

            Dan menjadi tanggung jawab bersama umat muslim di negara ini untuk terus mau belajar tentang agamanya dalam segala sudut pandang kehidupan baik ekonomi secara Islam, kekeluargaan secara Islam, Politik secara Islam dan lain sebagainya sehingga tidak lagi muncul perselisihan yang tidak lagi penting untuk dijadikan bedah kusir yang tak berkesudahan. Bukankah menimba Ilmu adalah hal yang diwajibkan bagi setiap umat muslim. Sehingga setiap tindakan harus didasari oleh ilmu dan paham betul sehingga tahu benar konsekuensi logis maupun non logis (laknat Allah). Saya optimis jika setiap umat muslim baik laki maupun perempuan mau belajar dengan ikhlas tentang agamanya maka akan banyak berfikir sebelum bertindak dan akan bertindak semata-mata karena siap dengan konsekuensinya.

 

            Demikian artikel ini saya buat semoga menjadi pencerahan buat semua saudara muslim dimanapun berada dan menjadikan Ukuwah Islamiyah tetap terjalin, jangan mudah lagi diadu domba oleh hegemoni pemikiran orang Barat yang menurut saya kebablasan.

 

Sumber: - Sistem Pergaulan dalam Islam, Dar al-Ummah, 2001

                - Menimbang Dalil Poligami, Balai Penelitian & Pengembangan Agama Jakarta, 2008

                - www.sabda.org

 

 

 

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Categories: Sudut Pandang

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

6 Comments

Reply Michaelver
4:33 AM on October 19, 2017 
http://verynicelevitratab.net - buy course work proofreading service for masters,order movie review ghostwriting services for mba,esl order essay writer website for mba
Reply Michaelver
8:11 AM on October 17, 2017 
http://verynicelevitratab.net - order presentation writer site for university,help me write professional persuasive essay online,buy argumentative essay ghostwriter site for mba
Reply Michaelver
7:31 AM on October 13, 2017 
http://onlinenewpharma365.com - cheap compare price tramadol
, hello and buy!, hello and buy!
Reply Michaelver
5:00 AM on October 13, 2017 
http://onlinenewpharma365.com - tramadolo eiaculazione
, hello and buy!, hello and buy!
Reply Michaelver
6:47 AM on October 11, 2017 
http://cialisnewpilles367.com - amoxicillin with potassium clavulanate dosage
, hello and buy!, hello and buy!
Reply Michaelver
3:56 AM on October 11, 2017 
http://levitrafromuzaz.com - tamoxifen citrate nolvadex liquid
, hello and buy!, hello and buy!