Gue Serba Gratis

Informasi Gratisan Yang Bermutu

Artikel Post New Entry

Praktek keadilan Rasulullah Saw dan Kajian Sosiologi

Posted by Diah Fitri Patriani on February 7, 2014 at 4:55 PM

 

 

Assalammualaikum Wr.Wb

 

Beredarnya video tindak kekerasan yang dilakukan oknum pemuka agama yang marak beberapa hari terakhir ini mestinya bisa menjadi hikmah bagi umat muslim tentang pentingnya keadilan Islam diterapkan dalam segala aspek kehidupan. yang sebelumnya telah ditauladani Nabi besar kita Muhammad Saw di masa kepemimpinan beliau.


Hukum ‘Qishos’ yaitu penerapan hukuman balasan bagi pelaku dalam kontek ketidakadilan, terlepas apakah itu sengaja maupun tidak disengaja oleh seseorang sehingga mengakibatkan kelalaian bagi orang lain. Jika dalam proses pelaksanaan pihak korban telah memaafkan dan ridho atas si pelaku menjadi pengecualian ditangguhkan Qishos tersebut.


Namun kiranya konsep ini pada perjalanan waktu tidak banyak disukai umat muslim dan tidak diterapkan oleh para pemimpin di Negara mayoritas Islam seperti Indonesia dengan pertimbangan ‘Hak Asasi Manusia’, ‘Toleransi’, atau dianggap hukum syar’iat sebagai hukum utopis yang niscaya untuk diterapkan dalam masyarakat modern..


Tapi mari kita ulas kembali awal mula hukum ‘qishos’ ini menjadi penerapan syariat yang paling baik di sisi sang pencipta hukum yaitu Allah SWT.


Tatkala Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam merasa ajalnya sudah dekat, beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampaikan pidatonya:


”Sahabat-sahabatku sekalian! Ajalku mungkin sudah dekat, dan aku ingin menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya, sekarang ini juga aku minta maaf.”


Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang pernah menimpa dirinya.


”Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah saw pada saat Perang Badar. Ketika Rasulullah saw mengayunkan tongkat komandonya, kudaku menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!” Nabi Muhammad saw menjawab, ”Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.” Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa tongkat komando, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyerahkan kepada sahabatnya untuk melaksanakan qishos.


Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib tampil ke depan: ”Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan Umar agar mundur, sambil berkata, ”Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi keadilan”.


Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat yang siap jadi algojo itu berkata,: ”Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan para sahabat.


Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan sudah terlihat jelas. Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos. Tapi, Rasulullah saw langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan sendiri demi keadilan.


Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merangkul dan mencium Rasulullah saw dan berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah saw menyentuh dan menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira. Rasulullah langsung berkata, ”Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang ini.”


Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan. Beliau, sebagai kepala negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas menerima hukuman qishos dari rakyatnya sendiri”.


Melihat tayangan wawancara di sebuah stasiun televisi swasta pada tanggal 13 Februari 2014 saya memandang konflik antara sang ustad dan staf sound system tersebut hanyalah sebuah kesalahpahaman di pihak ustad Hariri yang mengira dari sudut pandangnya nada suara tinggi yang terlontar dari mulut Entis adalah sebuah sikap kekurang ajaran. Setelah ditarik benang merah dapat dimengerti bahwa posisi Entis yang jauh dari panggung (20 m) memaksa ia harus meninggikan suaranya agar dapat dimengerti oleh si Ustad.


Sebagaimana dapat kita lihat dan ikuti video yang beredar tersebut sikap ketidak mengertian Entis pada kesalahannya membuat ustad merasa geram dan terjadilah proses penginjakan bahu yang dianggap diinjak kepalanya sementara sang ustad menganggap hanya memiting bahu si staf sound system tersebut. Pada akhirnya sekalipun proses saling memaafkan diantara kedua belah pihak telah dilakukan akan tetapi bagi para penonton, terkhusus pihak keluarga dan teman Entis merasa belum bisa ridlo. Kenapa demikian? Karena keadilan itu belumlah terbayar.


Seandainya ustad Hariri memahami perkara hukum syar’i ini maka ia akan dengan rela dan ridlo sebagaimana tauladan Nabi Saw membiarkan gishos itu berlaku baginya maka seluruh umat muslim akan bernafas lega terutama teman dan keluarga korban yang dari sudut pandang mereka telah diinjak-injak harga diri salah satu teman atau anggota keluarganya.


Dari kasus yang penulis kemukakan diatas dapatlah ditarik benang merah bahwa keadilan adalah kebutuhan dalam hidup bermasyarakat. Dengan keadilan terciptalah masyarakat yang damai dan sejahtera, dengan keadilan terjaminnya keamanan atas hak dan kewajiban anggota masyarakat. Salah satu penerapan keadilan adalah diberlakukannya Qishos sebagaimana dalam kitab Al-Qur'an, surat Al baqoroh, ayat 178:

 

178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih[111].

 

 

[111]. Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.

 


Namun kenapa keadilan hukum pada masyarakat yang berlaku saat ini lebih menekankan pada keadilan ala Barat yang notabene hanya berlaku diatas kertas sementara dengan mata kepala sendiri dapat kita temukan bagaimana kedzaliman tetap merajalela. Orang kaya menindas yang miskin, penguasa yang dzalim pada rakyat, budaya korupsi, upaya-upaya terstruktur yang dilakukan Negara Barat untuk menindas Negara-negara muslim dan lain sebagainya. Jawabannya mungkin bisa ditemukan pada pmbahasan selanjutnya.

 


Keadilan Hukum dalam Aspek Sosiologi

Hukum Alam


Hukum itu muncul sebagai kebutuhan akan keadilan dan kebenaran sebagaimana awal pemikiran hukum alam (kemungkinan yang dimaksud para pemikir ini adalah hukum samawi ) yang dicetuskan oleh pemikiran Barat beranjak pada abad 18.


Hukum Positif


Kemudian pada abad 19 hukum alam dianggap tidak lagi ilmiah dan hannya berdasar pada mitos belaka sehingga mengaburkan antara hukum dan moralitas. Dengan latar belakang tersebut berkembanglah hukum positif, yang dianggap lebih mampu menjelaskan secara ilmiah perkembangan masyarakat. Para pemikir-pemikir Barat pun bersemangat untuk melakukan berbagai kajian ilmiah dengan masyarakat sebagai subjek penelitian. Seperangkat norma dibuat dan dijadikan landasan dasar perilaku manusia. Sekalipun masing-masing pemikir hukum positif ini satu dan yang lainnya tidak menemukan kesepakatan bersama. Sebagaimana John Austin yang menerapkan seperangkat doktrin yang digunakan dalam system hukum formal sebagai perintah atau sumber hukum yang terlembaga mendapat kritikan dari Hans Kelsen karena baginya hukum dari sudut pandang John Austin tidak menyertakan sanksi yang akan mengatur ‘moralitas positif’ masyarakat.


Yurisprudensi Historis

Maka para pemikir historis menawarkan konsep hukum yang lebih society conscious (sadar masyarakat) dan culture conscious (sadar budaya), seperti Savigny (Jerman), dengan semangat volkgeist , yaitu adat kebiasaan masyarakat setempat bisa dijadikan dasar hukum. Karena masih menurut Savigny legalisasi hukum hanya dapat terbentuk dan diakui dari kesadaran popular, sebuah kondifikasi dan penyempurnaan hukum yang telah ada dalam kesadaran publik.


Namun Mine (Inggris) menolak pandangan Savigny tentang Volgeist. Bagi Mine hukum haruslah bersifat universal dan tidak mencirikan institusi hukum masyarakat tertentu. Ditambahkan oleh Mine bahwa dalam masyarakat peralihan konsepsi tentang perbuatan salah yang tak diperlakukan sebagai kesalahan tetapi sebagai sebuah kejahatan. Hal ini dikarenakan kepemilikan keluarga dalam masyarakat berdasar kekerabatan (kin based polities) runtuh dan diganti kepemilikan individu dalam masyarakat yang berdasar kewilayahan (territorially based polities). Pada akhirnya hukum pun berubah dari status menjadi kontrak.


Demikian Marx melihat hukum sebagai bagian dari perubahan masyarakat karena adanya perjuangan kelas.Maka hukum adalah variabel dependen, bukan sebuah kekuatan yang independen.Negara dan hukum dilihat Marx sebagai alat dominasi kelas.


Yurisprudensi Sosiologi


Namun dalam perjalanannya yurisprudensi historis dirasakan oleh para pemikir sosiologi tidak dapat dijadikan alat guna menyelesaikan masalah sosial (social problem) yang ada pada saat itu karena sifatnya yang kaku. Sebagaimana Jhering beranggapan bahwa masyarakat (1872) berpendapat bahwa masyarakat adalah ajang pertarungan kepentingan dan hukum sebagai mediatornya.


Erlich (1926), praktek social adalah sumber utama dari hukum yang hidup, yaitu kegiatan konvensional yang ada di masyarakat. Hukum yang hidup ini dapat dijadikan aturan-aturan formal dan hukum yang tidak berdasar pada hukum yang hidup tidak akan memilik vitalitas yang dapat bertahan dalam masyarakat.


Mendukung Erlich, Weber (1954) berpendapat hukum memiliki arti yang luas. Menurutnya hukum merupakan alat ‘kursif’ yang bertujuan menegakkan hukum dalam masyarakat, organisasi korporasi, atau lembaga-lembaga. Jadi norma-norma yang mirip hukum dapat dijamin oleh berbagai badan sosial, tidak hanya oleh Negara. Dalam tipe idealnya Weber mendalilkan konsistensi antar tipe dari keseluruhan organisasi politi dalam masyarakat, nilai-nilai dan ideology serta tipe sistem hukumnya.


Dari pemikiran mengenai hukum yang telah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan hukum yurisprudensi dalam sudut pandang hukum alam, hukum positif , yurisprudensi historis maupun yurisprudensi sosiologi muncul sebuah kritik penulis bahwa  hukum bisa terus berkembang, senantiasa berubah sebanding dengan perubahan masyarakat. Konsekuensi dari pemikiran tersebut merubah pula konsep nilai kebenaran dan keadilan sebagai dasar diperlukannya hukum. Hukum berasal dari manusia untuk manusia sementara sifat manusia senantias ingin bebas dan hukum manusia memiliki kelemahan yaitu kecondongan pada nilai-nilai budaya masyarakat tertentu meskipun dikatakan bersifat universal (sebuah wacana yang menjadi hegemoni kepentingan kelompok masyarakat tertentu) Padahal hendak mengajak masyarakat dari latar belakang agama atau budaya yang berbeda semata-mata untuk mengikuti pemikiran dan gaya hidup para pencipta hukum tersebut..


Tidak ada satu pun para pemikir Barat yang mengangkat pentingnya hukum Tuhan sebagai acuan kebenaran yang hakiki. Jika boleh penulis menganalogikan hukum sebagaimana aturan yang tertulis pada setiap kemasan gadget. Tujuan disertainya aturan pemakaian oleh sang pembuat gandget adalah sebagai petunjuk bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan teknologi tersebut agar tidak rusak dan seandainya dengan perlakuan diluar aturan menyebabkan gadget tersebut rusak maka disertakan pula dalam paket tersebut cara-cara penanganannya.


Demikian Allah SWT menciptakan manusia satu paket dengan aturan-aturan (Kitab Suci) yang mencegah dari kerusakan ciptaan-ciptaanNya melalui para nabi dan rasul sebagai penyeru tentang pentingnya kesadaran suatu masyarakat dan berfiikir tentang dirinya (manusia) adalah semata ciptaan Tuhan yang paling sempurna dari mahluk lainnya dan perlu bersyukur dengan mengikuti aturannya yaitu melakukan kebaikan dan menjauhi apa yang menjadi laranganNya. Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-hadiid, ayat 25:

25. Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

 

Aturan pun memiliki masa tersendiri untuk kaum tertentu sebagaimana Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 159

159. Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan[575].


[575]. Maksudnya: mereka memberi petunjuk dan menuntun manusia dengan berpedoman kepada petunjuk dan tuntunan yang datang dari Allah s.w.t. dan juga dalam hal mengadili perkara-perkara, mereka selalu mencari keadilan dengan berpedomankan petunjuk dan tuntunan Allah.

 

Maka ketika masa kenabian dan kerasulan atas umat tertentu itu telah berakhir maka oleh Allah SWT diutuslah para Nabi dan Rasul penerusnya dengan membawa aturan (kitab suci) yang tetap pada esensi yang sama yaitu menyeru pada kekuasaan Tuhan Allah SWT. Hingga Allah mengutus nabi dan rasul terakhir Muhammad di muka bumi untuk menyeru kepada semua umat manusia agar supaya meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya sang pencipta yang patut disembah dan Muhammad adalah utusan Allah SWT untuk umat ini sampai akhir jaman. Sementara hukum yang diberikan Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Saw adalah pijakan dan pedoman umat untuk mendapatkan keadilan. Sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An Nisaa’, ayat 105:

105. Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat[347],

 

[347]. Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu'mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu'mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. Hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu'mah kepada Nabi s.a.w. dan mereka meminta agar Nabi membela Thu'mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu'mah, Nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu'mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.

 

Demikian sudut pandang saya melihat perkara ketidakadilan dan mengambil qishos sebagai salah satu contoh hukum dalam menerapkan aspek keadilan bagi umat manusia. Sekiranya pendapat saya tidak mendapat tempat untuk para pembaca maka saya minta maaf sebesar-besarnya akan tetapi demikian Allah menetapkan hukum itu untuk seluruh umat manusia sekalipun kita mungkin tidak suka atau membencinya. Disinilah ujian itu detempatkan untuk kita. Barang siapa yang mengaku beriman tentulah akan sanggup mentadaburi kitab Allah secara keseluruhan dan tidak diambil setengah-setengah untuk kepentingannya. Sementara Aturan ini diturunkan untuk memenuhi kebutuhan akan rasa keadilan yang dibutuhkan manusia ciptaannya. Sebagaimana kitab Al-Qur’an Surat An-nisa ayat 58:

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi MahaMelihat.

 

 

Akhir kata saya ucapkan Wasallammualaikum Wr.Wb.

 

 Sumber: Kuper, Adam & Jessica, Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial,Grafindo,2000.

              Schimmel, Annemarie, Deciphering the Sign of God, Edinburgh University Press.

              Al-qur'an Digital, 2004.

              Dr,Abdul W. Syalabi, Mengapa Mereka Takut Kepada Islam,Bungkul Indah, 1995.

              Bahtiar HS, Jejak-Jejak Surga Sang Nabi, Lingkar Pena,2008.

Categories: Sudut Pandang

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments