Gue Serba Gratis

Informasi Gratisan Yang Bermutu

Artikel Post New Entry

Menarik Benang Merah Wacana 'Umma Washata' (Middle Community) dalam Masyarakat Islam

Posted by Diah Fitri Patriani on March 6, 2014 at 12:20 PM

Assalammualaikum Wr.Wb


Perbedaan pendapat memaknai 'Umma Washata' di dalam ayat al-Qur’an sesungguhnya kebanyakan hal lebih disebabkan karena pengaruh cara berfikir yang ter hegemoni oleh pemikiran Barat. Berawal ketika diterapkannya ideologi kapitalisme pada masyarakat eropa sebagai solusi atas masa kegelapan (The dark age) yang sedang melanda benua eropa saat itu dengan di terapkannya sebuah ideologi kapitalis yang pada kemudian hari menjadi universal dan melahirkan cabang-cabang ide seperti liberalisme, sekulerisme, pluralism, feminism, HAM dan lain sebagainya di masyarakat Barat, yang pada perjalanan waktu merembet meluas sampai pada Negara-negara Timur tengah sampai Asia tidak terkecuali Indonesia. Ideologi kapitalisme secara tidak langsung telah menyusup begitu dalam pada masyarakat muslim dunia dan Indonesia khususnya sehingga memandang bahwa konsep mengenai persatuan (nasionalisme), masyarakat madani (civil society), toleransi umat sampai pada penghargaan Hak Asasi Manusia sebagaimana yang didengung-dengungkan negara-negara Barat juga ada di dalam ideologi Islam dengan mengutak-atik wacana Umma Wasatha menjadi konsep yang sesuai dengan pemikiran Barat dengan nilai-nilai yang dianggap menjunjung tinggi peradaban.


Hegemoni kapitalisme yang dianggap Barat merupakan sistem ekonomi terbaik di dunia saat itu menjadi inspirasi untuk diterapkan diberbagai sistem kehidupan masyarakat baik di bidang sosial-budaya, hukum dan sebagainya. Demikian wacana Umma Washata pun berubah mengikuti cara pandang orang-orang yang menjadi pendukung faham-faham tersebut. Jalan tengah yang dalam arti shahih tidak melampaui batas-batas hukum Islam berubah makna menjadi kompromi. Keadilan yang dalam arti shahih adalah saksi atas kebenaran Islam berubah makna menjadi bersikap berdiri diantara dua ujung yang berbeda, menggabungkan antara dua yang berbeda, tidak berlebih-lebihan dan tidak lemah lembut. Masyarakat pertengahan yang dalam arti shahih adalah masyarakat yang berpegang teguh pada sunah rasul berubah menjadi masyarakat madani dengan berbagai penjelasan bias.


Demikian kata Ummu Washata (middle community) yang terdapat dalam firman Allah, pada surat al-Baqoroh: 143

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS al-Baqoroh:143)

Konsep masyarakat menengah sebagaimana yang terdapat dalam al-Baqoroh ayat 143 merupakan penjelasan tentang masyarakat ideal yang sesuai syariat. Masyarakat ideal ini pun menjadi bias maknanya ketika pada realisasinya diterapkan pada masyarakat dengan berbagai ragam latar belakang kepentingan dan ikatan sosial-budaya, ekonomi-politik dan hukum bertabrakan dengan faham kapitalisme yang universal, sehingga maknanya pun dari satu waktu terus berubah.


Beragamnya pendapat mengenai makna Umma Washata

Ahlu Sunah

Umma Washata diartikan sebagai suatu masyarakat muslim yang bersatu. Sebagaimana hadist Rosulullah Saw.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta, kasih sayang dan solidaritas mereka laksana satu tubuh, jika satu organ sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan demam” (HR Muslim).


Sehingga dianjurkan untuk umat muslim untuk saling mendukung satu dengan lain di jalan yang benar dengan menganjurkan kebaikan dan menjauhi perbuatan keji (ama ma’ruf nahi munkar). Dan jika terjadi perselisihan diantara umat maka dianjurkan kepada umat yang lain untuk berupaya mendamaikan dan bukannya saling mendukung satu dengan yang lain. Hal tersebut dikarenakan sesama umat muslim adalah saudara. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS at-Taubah:11)

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”(QS al-Hujurat:10)


Dan sebagaimana terdapat pada hadist nabi yang berbunyi

“khairil umuri awsatuha” (“sebaik-baik urusan adalah umma Washata” )

 


Para pemikir modern:


Mohammad Iqbal, menafsirkan Umma Washata sebagai umat yang menjadi saksi kebenaran tauhid yaitu satu tuhan, satu nabi satu qur’an dan satu tujuan. Ia pun menjelaskan ummata washata dalam konteks etika yahudi yang terlalu legal-formal sehingga cenderung keras dan etika nasrani yang terlalu spiritual sehingga lemah lembut.


Al Raghib al-Isfhani, menyatakan Umma Washata sebagai sesuatu yang berada di pertengahan yang kedua ujungnya pada posisi sama. Lalu pemikiran ini diartikan oleh para pemikir sebagai umat yang moderat atau umat yang tak memihak ke kiri dan ke kanan.


Georg Santilana, memandang konsep Umma Washata sebagi kesadaran bersama umat pada praktek keagamaan atau aturan keimanan dalam cara tertentu, ditujukan dan terinspirasi oleh Allah, menjauhi larangannya dan patuh pada perintahnya. Sebagaimana sholat 5 waktu, sholat Jum’at, dua kalimat syahadat, membayar zakat dan haji. Muslim yang ideal adalah muslim yang mengikuti sunah rasul dan menghadap kiblat.


Tawfig al-Hakim. Mengartikan Umma Washata sebagai sebuah jalan lurus kebenaran diantara diantar dua pemikiran yang ekstrim. Pentingnya sikap toleransi umat sepanjang terikat pada perintah al-qur’an dan hadist.


Azhari Akmal Tarigan mengartikan Umma Washata sebagai sebuah pemikiran yang moderat yang ia artikan sebagai tidak fundamentalis (yang ditujukannya sebagai islam garis keras) dan Islam Liberal. Tidak pula skripturalistik (tekstual) dan tidak pula substansialistik. Kedua-duanya juga bukan pilihan yang menurutnya tidak membawa pada kondisi umat yang ideal.

 


Kelompok Agresif


Gibb. H.A.R , berpendapat mengenai Umma Washata bahwa tidak ada komunitas beragama yang menempatkan sepenuhnya pada spirit katolik atau lebih siap mengikuti kebebasan pada umatnya mematuhi hanya pada penerimaan mereka, setidaknya kepatuhan minimum atas keyakinan.


Von Grunebaum, Umma Washata adalah instrument untuk menyatukan dunia dengan pax islmica-nya.


Annemarie Schimel, beranggapan bahwa konsep umat tidaklah sama dengan Negara islam. Khalifah di dunia modern sekarang bukanlah kepala Negara akan tetapi lebih sebagai kepala ulama pada umumnya. Lanjutnya pada abad pertengahan Negara muslim diperintah oleh pangeran atau sultan dengan julukan nasir amir al mu’minin. Jadi khalifah dianggap hanya sebagai ahli spiritual yang mengarah pada konsep yang umum.


Louis, menjelaskan Umma Washata dengan sebuah teori egalitarian tentang kelompok awam. Yaitu sebuah komunitas kepercayaan umat muslim yang dijadikan pusat pemikiran normative di dalam masyarakat. Teori ini muncul sebagai akibat dari ketidaksukaan orang muslim terhadap pola hidup masyarakat Barat yang dianggap tidak mewakili norma dan kehidupan sempurna sebagaimana yang diidealkan oleh umat muslim, dengan melekatkan pada figur-figur luar biasa seperti para sufi dan sejenisnya.


Kesempurnaan Islam sebagai sebuah Agama dan Ideologi.


Islam dikatakan sebagai agama sempurna oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya karena disamping Islam adalah sebuah agama juga merupakan ideologi. Islam sebagai agama karena ia mengatur sistem peribadatan atau spiritualisme ( aqidah, ibadah dan moral). Islam juga merupakan sebuah ideologi karena didalamnya terdapat konsep cara berfikir Islami (sesuai dengan al-qur’an dan hadist) dan dapat dijadikan metode untuk menerapkan konsep Islami tersebut dalam sistem kehidupan. Sebagaimana islam memiliki sistem ekonomi Islam (melarang riba dan judi), sistem budaya yang Islami, sistem hukum Islam (contoh hukum qishos) sampai system politik Islam. Demikian inilah yang dinamakan kaffah dalam menjalankan Islam sebagai agama dan ideologi.


Islam jelas berbeda dengan agama lain seperti yahudi dan Kristen, kedua agama tersebut hanya mengatur aspek spiritulisme bagi penganutnya, kedua agama tersebut juga bukanlah sebuah ideologi dimana seharusnya dikatakan ideologi jika memiliki dua unsur penting yaitu konsep cara berfikir dan metode menerapkan konsep tersebut dalam system kehidupan. Sehingga Kristen dan Yahudi tidak memiliki metode-metode yang dapat menerapkan spiritulisme tersebut dalam sistem kehidupan mereka. Oleh karena itulah orang-orang Barat menggunakan ideologi-ideologi rekayasa manusia (Sosialisme, Kapitaliseme dll). Sementara Islam disamping merupakan sebuah agama akan tetapi sekaligus menjadi ideologi yang dapat diterapkan dalam sistem kehidupan.


Sebagai sebuah ideologi, Islam pun berbeda dengan ideologi lain seperti kapitalisme dan sosialisme. Karena ideologi Islam bersumber dari hukum-hukum Allah sehingga ideologi Islam mempunyai nilai yang sesuai dengan fitrah ( mengakui manusia adalah mahkluk yang punya kekurangan) dan ideology Islam dibangun dengan akal sebagaimana terdapat dalil-dalil al-Qur’an yang mengajak umatnya untuk berfikir sehingga menjadi taqwa kepada Allah Swt dan tidak melampaui batas.


Inilah mengapa Islam merupakan agama samawi yang sempurna sebagaimana firman Allah Swt.

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3)

 


Islam Moderat


Kesempurnaan Islam ditempatkan oleh Allah diantara sebuah agama dan ideology inilah yang membuat umat muslim menjadi “umat washata” yaitu umat yang adil yang berada di jalan antara agama dan ideology sehingga ia bukanlah agama saja yang mengatur system peribadatan sebagaiman agama yahudi, nasrani dan agama bumi lainnya, akan tetapi Islam secara sempurna mengatur sistem kehidupan manusia secara lengkap dan jelas melalui hukum-hukum syar’i-Nya, sehingga ia tidak saja menjadi sebuah ideology pada umumnya sebagaimana ideologi kapitalisme, liberalisme yang mengatur sistem hidup bebas, meraup keuntungan sebesar-besarnya dan lain sebagainya, Islam lebih dari itu bahwa sistem kehidupan yang diatur oleh Islam senantiasa berkaitan dengan ketundukannya pada Tuhan, Allah Swt.


Kesalahan fahaman menafsirkan konsep moderat dalam wacana “umma washata” sebagai pola berpikir yang tak memilih antara fundamentalis maupun liberalis, yang kemudian melahirkan pentingnya Kompromi, menerima masuknya ideology selain ideology Islam dalam kehidupan mereka (seperti ideology kapitalisme, liberalisme, sekulerisme, pluralisme yang menggunakan topeng demokrasi) hingga tak cukup sampai di situ saja sebagian umat muslim yang menganggap ritual agama yang mudah ini kemudian dimodifikasi ditambah dikurangi sehingga kehilangan substansinya sebagai agama yang mudah, sempurna dan kasih sayang.


Moderat jika dikaji lebih dalam lagi maka sebenarnya mengandung arti istiqomah, tidak melewati batas-batas yang ditetapkan oleh syari’at. Sebagaimana firman Allah Swt.

“Diantara mereka ada golongan yang pertengahan/muqtashidun (orang yang berlaku jujur, lurus, dan tidak menyimpang dari kebenaran)…” (QS. Al-maidah:66)


Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa Islam menuntut seorang muslim untuk bersikap istiqomah (konsisten) di dalam menetapi batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah dan berlaku mu’tadil (moderat) atau berlaku lurus dalam menjalankan perintah Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomah”(HR. Muslim dan yang lainnya)


Sehingga yang dimaksud ekstream dalam dalil-dalil Qur’an dan hadist diatas sesungguhnya adalah justru sikap yang terlalu berlebih-lebihan di luar batas sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Saw. Bagi umat muslim idealnya beribadah kepada Allah dengan syarat-syarat sahnya (misal sholat) yang telah ditauladani Rasulullah dan bermuamalah sebagaimana sesuai dengan hukum-hukum syari’at.

 


Umat yang Adil


Jika menurut sebagian pendapat kalanngan konsep adil di dalam konteks surat al-Baqoroh:143 dianggap sebagai sikap pertengahan, perdamaian atas dua ujung yang saling bertentangan. Di dalamnya tidak bersikap berlebih-lebihan ala yahudi dan sikap meremehkan ala nasrani. Jalan tengah dianggap mereka sebagai sikap terbaik demi mendukung prinsip jalan tengah.


Maka, mari sekali lagi kita mencermati makna adil yang sahih dalam Islam, sesungguhnya paradigm adil di atas sungguh tidak ada dalam Islam. Karena adil di dalam konteks ayat tersebut mengandung makna bahwa umat Islam akan menjadi saksi yang adil (hujjah) bagi umat-umat lain setelah disampaikan risalah Islam kepada mereka. Hal ini sama halnya dengan Rasulullah saw. Kelak menjadi saksi yang adil (hujjah) atas umat Islam karena beliau telah menyampaikan risalah kepada umat muslim.


Sehingga adil bisa bermakna lurus dan tidak melampaui batas tidak pula kompromis. Sebab, tidak ada kompromi dalam nash-nash dan hukum-hukum Islam. Karena nash dan hukum di dalam Islam telah sempurna, sangatlah terang, teliti dan jelas batas-batasnya. Sehingga hukum-hukum ini memiliki istilah Hudud (batas-batas) sebagaimana firman Allah Swt.

“Itulah hukum-hukum Allah; diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui “(QS al-Baqoroh: 230).

“Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukannya ke dalam api neraka, sedangkan ia kekal di dalamnya “(QS an-Nisa:14).

 

 


Penutup


Dari penjelasan mengenai Umma Washata (middle community) melalui upaya menarik benang merah diantara berbagai pendapat dengan memaparkan penjelasan mengenai sempurnanya Islam dikatakan sebagai agama dan ideologi yang telah penulis paparkan diatas, maka dapat kita temukan sendiri bahwa sebagai agama yang sempurna Islam senantiasa dapat diterapkan dalam masyarakat dari suku bangsa manapun, Islam pun sangat menjunjung tinggi warga non muslim (dimmah) dengan menempatkan mereka di bawah perlindungan Negara dan warga muslim dalam perlindungan hukum syariah disegala aspek kehidupan. Cahaya Islam yang menawarkan kedamaian ddan kesejahteraan bagi umatnya ini pun sayangnya tak bersambut manis dikalangan umat muslim sendiri sehingga banyak orang Islam yang minder dengan agamanya, orang Islam bangga dengan peradaban Barat, Bangga memiliki cara berfikir dan berkiblat pada faham-faham mereka. Naudzubilah min dzalik.


Semoga para pemimpin bangsa ini segera sadar dan melihat cahaya Islam sebagai satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah ekonomi, politik, hukum dan sosial-budaya. Semoga para ulama dan masyarakat muslim Indonesia segera bangkit dan keluar dari kotaknya dan melihat serta mendukung perjuangan saudara-saudara muslim di Palestina, Suriah dan lain-lain yang sedang bergejolak untuk menuntut tegaknya hukum syariat sebagai satu-satunya hukum di dunia. Pentingya persatuan umat muslim tidak hanya untuk sesama bangsanya akan tetapi juga umat muslim yang berada di belahan dunia lain. Alangkah miris ketika seorang muslim dengan bangga mengaku bukan bagian dari umat muslim di Suriah, Palestina, Afrika dan belahan dunia lain. Amat mengerikan ketika seorang muslim hanya sibuk mengenyangkan perutnya sementara tetangganya kelaparan. Alangkah pedih ketika umat-umat muslim selangkah-demi selangkah meninggalkan hukum-hukum Allah demi merasa aman dan selamat di dunia.


Kita sebagai Umma Washata semestinya tetap berjalan di jalan yang lurus, bersikap adil dan tidak kompromis terhadap upaya-upaya mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran-ajaran yang lain. Karena agama ini agama yang sempurna, diatas agama ini ada Allah dan Rasul-Nya yang menjadi saksi bagi hamba-hambah Allah yang berpegang teguh pada agama ini. Demikian kita pun menjadi atas agama Allah ini hingga datangnya kiamat nanti. 


Semoga ilmu ini menjadi tambahan pengetahuan para pembacanya dengan hati terbuka dan menginspirasi untuk terus memperbaiki ke Islaman kita menuju yang“kaffah”.


Wassalammualaikum Wr. Wb

 

 

 

Categories: Sudut Pandang

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments