Gue Serba Gratis

Informasi Gratisan Yang Bermutu

Artikel Post New Entry

BERIMAN Yang CEMERLANG

Posted by Diah Fitri Patriani on June 16, 2014 at 2:15 PM


Assalammualaikum Wr.Wb.


Melihat fakta sosial yang bergulir beberapa bulan terakhir tentang fenomena pro kontra penutupan lokalisasi Dolly, pedofilia dan beberapa kisah pergaulan bebas anak-anak remaja di sekitar lingkungan tempat tinggal atau pengalaman seorang guru kebetulan teman saya sendiri yang murid perempuannya telah mengaku 90% tak perawan, membuat saya resah dan tergelitik untuk kembali menulis. Ya saya harus menulis mewakili keresahan seorang ibu rumah tangga yang kuatir akan masa depan anak-anaknya kelak, seorang warga Negara yang merasa punya tanggung jawab moral untuk merubah pemikiran bangsanya dan seorang muslimah yang merasa punya hak untuk berhukum pada peraturan (syariat) sesuai akidah Islam.


Kita adalah umat yang disanjung Allah sebagai umat yang membawa keadilan di muka bumi (Ummatun wasatha), Kita pula lah yang distempel Allah sebagai umat terbaik (Kuntum Qhoirum Umat) namun faktanya saat ini umat muslim diseluruh dunia tidak terkecuali di Indonesia sedang dilanda kerusakan moral, kemiskinan, kemaksiatan dan kerusakan di darat dan di lautan. Apa sebab bisa terjadi demikian, karena ulah umat muslim sendiri yang tidak bersegera untuk sadar dari keterlenaannya dalam buaian demokrasi kapitalis yang liberalis dan sekuleris. Umat muslim terus digiring menjauh dari agamanya baik dengan cara halus melalui hegemoni faham diluar akidah Islam maupun dengan cara yang diskriminatif sebagaimana saudara-saudara kita di Palestina. Yang menyedihkan dan menyayat hati justru beberapa ulama muslim Indonesia mengatakan dengan rasa tak bersalah bahwa saudara-saudaranya di Timur tengah yang sedang tertindas itu adalah bukan saudaranya.


Jika memang umat muslim di Indonesia bukan bagian dari umat muslim di Negara-negara seperti Malaysia, Brunai Darusalam, Timur Tengah maupun umat muslim dimanapun ia berada di belahan dunia lain lalu kita umat muslim yang seperti apa? Tidakkah Indonesaia sekarang juga sedang mengalami proses kerusakan yang sama. Tidakkah generasi muda kita telah banyak yang jatuh dalam semangat hedonisme yang mengagungkan kebebasan sehingga banyak yang berjatuhan diantara mereka dalam pergaulan bebas, miras, narkoba dan kriminalitas. Belum dapatkan diambil pelajaran (ibrah) bahwa para elit pejabat di negeri mayoritas muslim ini jatuh dalam korupsi yang seolah tak ada kapoknya meski sudah dibentuk bermacam versi tim pemberantas korupsi.


Lalu setiap calon legislatif yang akan menduduki kursi jabatan meneriakkan pentingnya kebangkitan ekonomi sebagai solusi bangsa yang sedang dirundung berbagai macam cobaan dan musibah. Bahkan calon presiden yang hendak menduduki kursi kekuasaan pun mengusung konsep kebangkitan yang sama parsialnya dengan calon legislatifnya. Apakah ekonomi kerakyatan bisa mengentaskan kemiskinan, mengentaskan masalah kerusakan moral dan membasmi jiwa-jiwa korup yang telah mulai mengakar di tubuh bangsa ini?


Saya punya teman seorang ibu yang bekerja di dinas sosial, beliau mendapat tugas mengurusi 36 PSK terdaftar yang rencananya akan dikembalikan di daerah asalnya Jember pasca ditutupnya tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara (di negara mayoritas umat muslim ada prostitusi terbesar di Asia Tenggara, saya malu dengan rekor tersebut), si ibu bercerita bahwa ia bingung karena para mucikari tidak mau dibayar sama dengan PSK lainnya yaitu sebesar Lima Juta Lima Puluh Ribu per orang, mereka menuntut dikisaran Dua Belas Jutaan. Dari Pemerintah Kotamadya Surabaya ada dana kompensasi 1,5 M dan dari pemerintah pusat melalui Kemensos akan menggelontorkan 7,3 M. Yang mengganjal dalam hati saya adalah kenapa para pelaku maksiat itu jusru dibayar mahal, kenapa tidak mengambil solusi syariat sebagaimana yang telah diatur dalam akidah Islam yaitu memberi pemahaman pada pelaku maksiat bahwa hukuman di neraka kelak lebih kekal dan mereka akan digantung pada kemaluannya sehingga demi terbebas dari hukuman Allah itu mereka para pelaku maksiat harus bertobat dan menerima hukum dunia, barang siapa yang sudah menikah maka hukuman atas kemaksiatan mereka adalah dirajam, dan bagi pelaku maksiat yang belum menikah mereka cukup didera 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun. Apakah kita lebih kuatir dicap oleh negara Barat sebagai negara yang tak menerapkan HAM bagi pelaku kejahatan dari pada takut pada kemurkaan atas Azab Allah yang lebih besar? lalu bagaimana hak orang-orang yang tak berdosa seperti kasus ibu rumah tangga yang tertular HIV karena suaminnya jajan dengan PSK atau anak-anak kita yang bisa saja terjerumus kedalam lembah nista itu. Audzubillah Min Dalik!


Tidakkah total nilai uang 8.8 milyar itu semestinya dapat digunakan untuk kemaslahatan yang lain misalnya membangun jembatan yang puluhan tahun terputus di beberapa daerah pinggiran di Indonesia, bukankah itu adalah lebih adil. Atau bisa juga dialihkan untuk membangun kembali sekolah-sekolah negeri yang roboh karena kontruksinya buruk. Kenapa tidak ada yang berfikir kesitu, kenapa justru para pemimpin negeri ini sibuk mengatur hal-hal yang semestinya sudah bisa dientaskan dengan cepat dan segera beralih pada hal yang lebih urgent. Belum lagi pro dan kontra dikalangan pejabat, pro dan kontra dikalangan ulama mengenai rencana penutupan Dolly tersebut makin memperumit masalah.


Negeri yang bernaung masyarakat Islam seharusnya dapat memancarkan cahaya yang menerangi seluruh umat baik muslim maupun non muslim, bagaikan mercusuar yang mengantar kapal pada arah yang benar. Namun kenapa umat muslim di Indonesia seperti ini. Muncul pertanyaan mendasar, Sudah benarkah keimanan kita sebagai orang Islam? Apakah kita mengakui agama ini karena melalui proses berfikir hingga mendapatkan hujjah (bukti yang kuat) dan disertai dengan keyakinan serta kepasrahan yang total pada proses menemukan iman itu. Ataukah segala kerusakan ini muncul sebagai akibat karena keimanan kita hanya sekedar taglid atau ikut-ikutan semata.


Islam adalah agama shohih dan sempurna, ia mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu didalamnya terdapat ‘akidah’ dan ‘peraturan (syariah)’.

 


Akidah

Keimanan (akidah) ini meliputi; iman kepada Allah, Malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari Akhir, dan Qodlo-Qodhar. Jalan menuju keimanan ini harus dibangun berdasarkan dua hal yaitu melalui ‘pembuktian dengan akal pikiran’ dan ‘keyakinan serta kepasarahan total’.


 

Pembuktian dengan akal pikiran.

Sebagai seorang muslim yang telah diberikan akal pikiran oleh Allah SWT sesungguhnya akal pikiran kita ini adalah tanda kebesaran Allah untuk digunakan manusia dalam menemukan bukti-bukti penciptaan dibalik hidup, kehidupan dan alam semesta. Dengan cara mengerahkan akal pikirannya pada diri dan pada alam sekitar dimana ia berada. Ajakan berfikir ini sebagaimana terdapat pada beberapa firman Allah:


“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal”. (Ali Imron [3]: 190).


“Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 17-20)


Pemikiran yang dapat memecahkan permasalahan utama manusia yang berkutat seputar hidup, alam semesta dan manusia ini haruslah sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan memberikan ketenangan hati. Jika tidak demikian maka pemikirannya itu tidak benar.


Perlu difahami bahwa kebangkitan manusia itu berdasarkan pada pemikirannya. Sehingga ia baru akan bisa bangkit dari kemerosotan, keterpurukan dan penderitaannya jika telah dirubah pemikirannya secara mendasar. Mengapa itu bisa terjadi karena pemikiran seseorang itu berpengaruh terhadap persepsi (mafahim) dan mafahim ini nanti yang berkaitan erat dengan tingkah lakunya (suluk). Sebagaimana firman Allah:


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka”. (QS. Ar-Rad [13]: 11).


Sehingga proses menuju keimanan yang benar harus ditempuh melalui pemikiran cemerlang (al-fikru al-mustanir) adalah cara berfikir yang benar tentang cara memandang hidup, alam semesta dan manusia sehingga persoalan mendasar manusia mengenai hakekat penciptaan dan yang diciptakan (al-ukdatul Kubra) dapat terpecahkan dengan senantiasa mengaitkan hubungan diantara hidup, alam semesta dan manusia serta keterkaitan ketiganya dengan sebelum kehidupan dan sesudahnya. Hal inilah yang membedakan dengan cara berfikir dangkal dan cara berfikir mendalam.


Cara berfikir dangkal yaitu memandang hidup, alam semesta dan manusia itu dari ciri-ciri yang tampak saja. Misal pisang sebagai objek bernama buah yang berwarna kuning, cara memakannya dengan dikupas terlebih dahulu dan isinya berwarna putih. Pula membedakan dengan cara berfikir mendalam yang melihat hidup, alam semesta dan manusia ini disamping dari ciri fisik yang tampak beserta analisa ilmiah yang menyertainya. Misal pisang tadi yang berwarna kuning, dikupas dan isinya berwarna putih juga mengandung beberapa senyawa yang menguntungkan tubuh terutama pencernaan.


Cara berfikir cemerlang (al- fikru al-mustanir), memandang buah pisang ini tidak saja secara mendalam bahwa dalam kandungan buah pisang terdapat senyawa yang bermanfaat bagi tubuh akan tetapi melihat buah pisang ini adalah sebuah ciptaan sang pencipta yaitu Allah SWT, yang ditujukan untuk kesejahteraan manusia dan hidup matinya tanaman pisang ini bergantung pada kehendak sang pencipta. Sebagaimana manusia yang diciptakan Allah punya tujuan hidup di dunia yaitu menyembah penciptanya tanpa menyekutukannya. Sesungguhnya apa-apa yang hidup ia akan mati dan kembali pada sang pencipta dengan mempertanggung jawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.


Mari kita pahami bersama mengenai hidup, alam semesta dan manusia lebih jauh. Tahukah kita ketiga hal yang disebutkan diatas yaitu hidup, alam semesta dan manusia sesungguhnya bersifat terbatas karena pada akhirnya akan mati, hancur dan binasa. Dengan kata lain bahwa yang serba terbatas itu pasti telah diciptakan oleh yang tak terbatas (azali) yaitu sang Khaliq.


Ada tiga kemungkian dalam menentukan keberadaan sang pencipta ini, kemungkinan yang pertama, ia diciptakan oleh yang lain. Kemungkinan ini jelas bathil dan tidak masuk akal adanya karena jika ia diciptakan maka pasti tidak bisa dikatakan sebagai Tuhan yang menciptakan karena ia sama terbatasnya seperti mahluk. Kemungkinan kedua, ia menciptakan dirinya sendiri, bahwa ia sebagai sang Khaliq juga sebagai hamba secara bersamaan. Kemungkinan ini tetap batil adanya dan tak masuk akal. Kemungkinan ketiga, ia bersifat tak terbatas (azali) dan keberadaannya dapat dibuktikan dengan ciptaan-ciptaannya (wajibul wujud).

 


Keyakinan dan Kepasrahan Total.

Oleh karena itu manusia yang terbatas ini secara fitrah sebagai mahluk punya kelemahan, kekurangan dan membutuhkan sesuatu yang tak terbatas. Ia membutuhkan Tuhan untuk disembah tempat untuk bersandar, mengadu dan memohon pertolongan. Namun, iman yang fitri ini muncul dari hati nurani belaka sehingga jika tidak disertai akal yang dapat menemukan bukti nyata maka iman ini tidak dapat bertahan lama, karena perasaan manusia cenderung berubah-ubah. Sehingga beriman tanpa mengaitkan dengan akal hanya membawa pada kekufuran. Percaya pada mitos, menyembah berhala, cerita bohong (khurafat) dan ajaran kebatinan adalah cara menyembah yang kemudian akan ditempuh jika tidak melibatkan akal pikiran.


Akan tetapi keimanan juga tidak dapat dicapai hanya mengandalkan pada akal pikiran semata karena dibutuhkan keyakinan dan kepasrahan total pada segala Risalah yang dibawa oleh Rasul Allah sekalipun itu tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran, seperti perkara hari kiamat, malaikat, surga dan neraka. Namun karena sumber risalah itu dari Al-qur’an yang telah menjadi bukti (hujjah) dari proses merenung dan berfikir dan pula berasal dari sumber hadits yang mustanir maka harusnya semakin memperkuat keimanannya dan tidak muncul sedikit pun keragu-raguan dalam hatinya.


 

Peraturan (Syariat)

Syariat adalah seperangkat peraturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia sesuai dengan akidah Islamiah. Ritual atau aktivitas beribadah adalah salah satu bentuk yang muncul dari naluri beragama. Secara fitrah manusia senantiasa mensucikan penciptanya sebagai bentuk kedekatan hubungan antara manusia dan penciptanya. Namun demikian, jika aktivitas ini dibiarkan tanpa aturan maka akan menimbulkan kekacauan dalam beribadah, bahkan bisa menjerumuskan pada penyembahan selain Allah sang pencipta.


Dibutuhkan aturan untuk mengatur aktivitas beribadah, disinilah peran Rasul sebagai utusan Allah amat dibutuhkan. Rasul menyampaikan agama Allah kepada manusia dan mentauladani umatnya cara beribadat yang benar sesuai syariat. Demikian dalam memenuhi gharizah (naluri) dan kebutuhan jasmani manusia cenderung berbeda pemahamannya dalam mengaturnya sehingga jika dibiarkan maka akan menyebabkan perbedaan, perselisihan, pertentangan dan mudah terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya yang akan menimbulkan kesengsaraan. Sehingga gharizah dan kebutuhan jasmani pun harus diatur dan aturan itu juga harus berasal dari sang Khaliq. Rasul inilah yang dibutuhkan untuk membimbing umat dan mengajarkan bagaimana cara memenuhi gharizah dan kebutuhan jasmani yang benar sesuai dengan syariat.


Rasul Allah tidak mungkin menentang sang Khaliq yang mengutusnya, demikian pula kitab Al-Qur’an yang dikabarkan oleh rasul bukanlah kitab buatannya sebagaimana yang pernah dituduhkan padanya. Dalam menentukan asal muasal Al-Qur’an ada tiga kemungkinan. Pertama, ia adalah karangan orang Arab. Kedua, karangan Muhammad. Ketiga, berasal dari Allah.


Jika kemungkinan pertama al-Qur’an berasal dari bangsa Arab, maka Allah sendiri menolaknya dalam firman beliau :


“katakanlah: maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya”. (QS. Hud [11]: 13).


Maka tak ada seorang Arab pun yang diminta Rasul untuk membuat tandingan Al-Qur’an dapat melakukannya. Padahal orang Quraish terkenal dengan penyair-penyair yang hebat. Hingga kembali Allah menantang membuat satu ayat saja sebaimana firman Allah:


“Katakanlah: (kalau benar apa yang kamu katakana) maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (QS. Yunus [10]: 38  ).


Orang-orang Arab telah berupaya membuat satu surat, meski telah ada satu surat mengenai Gajah (Al-Fill) akan tetapi surat tandingan itu tidak berhasil menyamai ketinggian makna, kekhasan bahasa dan kekayaan diksi sebagaimana Al-Qur’an yang diciptakan Allah. Sehingga kemungkinan kedua bahwa al-Qur’an dibuat oleh Muhammad secara otomatis gugur karena Muhammad juga orang Arab.


Maka terbukti bahwa Al-Qur’an itu Kalamallah yang menjadi mukjisat bagi umat yang mengembannya karena berasal dari sang Khaliq pencipta alam semesta. Apalagi jika dibandingkan antara bahasa Hadist dan bahasa Qur’an maka sangat berbeda terutama bagi para ahli yang mengerti tentang perbendaharaan kata dan sastra Arab. Justru tak ada seorang Arab pun yang meragukan ini sekalipun ia Arab kafir.


Apabila manusia dapat memecahkan masalah tauhid dengan akidah yang benar maka ia dapat beranjak memikirkan kehidupan ini serta mewujudkan persepsi (mafahim) yang benar dan produktif. Mafahim yang benar ini menjadi dasar bagi berdirinya suatu mamda (ideologi), peradaban (hadlarah), peraturan-peraturan. Perlu diketahui bahwa hampir 90 persen peraturan (syariat) membutuhkan kewenangan Negara. Maka jika Negara tidak mau menerapkan aturan (syariat) Islam berarti negara telah membawa rakyatnya pada kesesatan. Sebagaimana firman Allah :


“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian pada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan Allah dan kepada kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan siapa saja yang mengingkari Allah, Malaikat, Kitab, Rasul dan hari Akhir maka ia telah sesat sejau-jauh kesesatan”. (QS. An-Nisa [4]: 136).

 


Penutup

Iman bagi setiap muslim adalah keharusan, sehingga jika dengan akal pikiran ia telah dapat membuktikan keimanannya itu maka wajib pula bagi setiap muslim untuk mengimani pula syariat Islam. Aneh, bila masih ditemukan seorang muslim yang mengaku beriman akan tetapi ia tidak mau melaksanakan syariat Islam dalam kehidupannya. Sikap dan perbutannya ini bisa menggiringnya pada kekufuran karena ia menolak terhadap hukum-hukum syara’ untuk mengatur kehidupannya. Sekalipun ia mau menerapkan ia hanya mau tunduk pada sebagian hukum saja yang dianggap membawa maslahat. Sementara hukum menegakkan syariat, hukum sanksi bagi pencuri, hukum sanksi bagi pezina, hukum berjihat ditolak mentah-mentah dan tidak diimani sama sekali. Pertanyaannya apakah mereka ini masih bisa disebut sebagai orang Islam?

 Allahualam bishowab!

Categories: Sudut Pandang

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments