Gue Serba Gratis

Informasi Gratisan Yang Bermutu

Artikel Post New Entry

MENGAPA MEREKA MASUK ISLAM?

Posted by Diah Fitri Patriani on September 9, 2014 at 3:45 AM


 

Tiga permasalahan besar manusia (Ukdatul Kubra) yaitu dari mana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan dan akan kemana setelah manusia mati. Sesungguhnya menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang menjalani proses kehidupan selanjutnya. Jika pemahaman tentang tiga permasalahan besar (Ukdatul Kubra) benar maka selamatlah ia menapaki jalan kebenaran yang diatur oleh sang maha pembuat aturan yaitu Allah SWT. Sebaliknya jika mereka salah dalam memahami perkara ini maka yang terjadi adalah jalan kesesatan sebagaimana kisah hidup jahiliyah yang pernah dialami oleh dua orang mualaf di bawah ini.


Ia bernama Yusuf Estef saat ini beliau adalah seorang imam tetap di markas Militer AS di Texas, dai di penjara dan secara regular tampil di Huda TV, Peace TV Amerika dan Islam Chanel di Inggris. Yusuf Estef telah banyak mengislamkan berbagai kalangan terutama dari kalangan birokrat, guru hingga pelajar. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif dan ilmu al-Qur’an setelah belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Jika melihat Yusuf Estef yang sekarang maka berbeda jauh ketika ia masih belum menjadi mualaf. Karena tahun 1991 kebelakang ia masih seorang pendeta di Midwest Amerika Serikat) yang amat membenci Islam. Ia memutuskan masuk Islam karena tiga pertanyaan besar tentang konsep Tuhan yang mampu dijelaskan seorang pemuda Mesir, Padahal pada awalnya ia justru hendak memurtadkan pemuda tersebut.

 

Selama bertahun-tahun ia mencoba mencari Tuhan dengan mencari klarifikasi dari agama lain Budha, Hindu, dan lain-lain kecuali Islam karena di benaknya saat itu Islam dianggap agama teroris. Namun, tak juga didapat jawaban memuaskan akal dan menenangkan hati nuraninya yang masih ragu tentang konsep ‘Trinitas’, bahwa Tuhan itu satu namun pada saat yang sama ia dapat menjadi “Anak Tuhan”. Bahkan dalam versi bible manapun yang ia pelajari tak ada satu pun yang membahas tentang ‘Trinitas’. Tidak hanya persoalan akidah ia pun bingung kenapa tak ada seorang pun yang dapat menjelaskan siapa yang menulis Bibel, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama. Kenapa bible yang terkini berbeda versi dengan bible terdahulu. Tak hanya Yusuf Estef seorang, masih banyak berderet kisah-kisah para mualaf di Amerika Serikat yang lahir dari kebencian Islam kemudian menjadi cinta yang merekah bagai jamur-jamur di musim semi.

 

Di Indonesia, seorang Felix Siauw yang realistis dan cerdas dalam proses mencari kebenaran tentang konsep Tuhan justru membuatnya terperangkap dalam pemikiran pluralis dan sekuleris. Makin ia belajar mendalam tentang Bible makin banyak kegamangan dan keraguan yang muncul dibenaknya mengenai akidah agama yang ia anut. Kenapa Tuhan satu namun disaat bersamaan bisa menjadi ‘Bapak’ dan ‘Anak Tuhan’. Dalam proses belajar dan mencari kebenaran itulah ia mengetahui bahwa konsep ‘Trinitas’ itu merupakan hasil kongres di Nicea 325M. Ditambah informasi lain yang tak kalah membuatnya shock bahwa 14 dari 27 surat di dalam injil ditulis oleh manusia. Sisanya ditulis oleh Santo Paulus. Bahkan Yesus pun tak tahu apa isi yang terkandung dalam kitab-kitab injil dalam berbagai versi itu. Mengetahui kenyataan itu ia memutuskan untuk menjadi seorang Sekuleris, bahwa kehidupan dunia harus dipisah dengan agama karena semua agama pada dasarnya sama. Ia pun terjebak dalam kerangka berfikir pluralis bahwa jika demikian tak ada agama yang benar karena menurutnya agama saat ini tidak murni, telah diselewengkan oleh para penganutnya.


Masuk Islamnya Felix tak berbeda jauh dengan Yusuf Estef. Ketika Felix bertemu dengan seorang ustad muda dari gerakan dakwah Internasional maka segalanya berubah 360 derajat. Hanya dalam waktu semalam setelah berdialog seputar akidah itu berjalan maka keesokan harinya ia memutuskan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas akan tekadnya mengucapkan kalimat Syahadat. Kerangka berfikirnya tentang Islam pada saat itu berubah. Bahwa hanya Islamlah agama yang paling benar dan sempurna.

 

Tiga Pertanyaan Besar (Ukdatul Kubra)


Tiga pertanyaan besar yang akan menyertai proses kehidupan manusia adalah seputar dari mana manusia itu berasal, apa tujuan manusia diciptakan di muka bumi dan kemana manusia setelah mati.


Islam adalah agama shohih dan sempurna, ia mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu didalamnya terdapat ‘akidah’ dan ‘peraturan (syariah). Demikian pula Islam adalah agama terakhir di muka bumi yang saat ini menjadi petunjuk terakhir bagi keselamatan umat manusia di dunia maupun di akhirat kelak. Kebenaran dan kesempurnaan agama Islam ini kuat diatas firman Allah:

“Pada hari ini Aku (Allah) telah menyempurnakan agama untukmu semua, dan Aku telah mencukupkan kenikmatan-kenikmatanKu padamu semua dan Aku telah rela/ridha bahwa Islam itu sebagai agamamu semua”. (QS: Al-Maidah: 3)


Keimanan (akidah) ini meliputi; iman kepada Allah, Malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari Akhir, dan Qodho-qodhar. Jalan menuju keimanan ini harus dibangun berdasarkan dua hal yaitu melalui ‘pembuktian dengan akal pikiran’ dan ‘keyakinan serta kepasarahan total’.


Kebenaran dan kesempurnaan Islam sebagai agama karena ia lahir dari proses berfikir yang menuntut penganutnya untuk mempelajari, mengamati dan memperhatikan segala penciptaan atas alam semesta, manusia dan hidup serta memperhatikan hubungan diantara ketiga hal tersebut. Sebagaimana terdapat pada beberapa firman Allah:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal”. (QS. Ali-Imron: 190)


Ajakan untuk berfikir ini pun terdapat pada ayat lain seperti QS. At-Thariq [86]:6-7, QS. Ar-Rum [30]:22, QS. Al-Ghasiyah [88]: 17-20, QS. Al-Baqoroh [2]: 164.


Islam tidak saja mengajak penganutnya berfikir secara mendalam tentang alam semesta, manusia dan hidup akan tetapi lebih dari itu yaitu berfikir cemerlang yang melihat bahwa sebelum adanya penciptaan alam semesta, manusia dan hidup terdapat proses penciptaan oleh sang pencipta yaitu Allah SWT. Dan mengetahui tujuan dari penciptaan itu sendiri, yaitu semata-mata agar manusia beribadah kepada Allah SWT. karena keberadaan alam semesta beserta kehidupannya adalah pemberian Allah yang dapat dimanfaatkan oleh umat manusia sesuai dengan aturan Allah. Dan sesudah kehidupan ini berakhir ketiga hal tersebut akan kembali pada sang penciptanya.


Menemukan keimanan melalui proses berfikir inilah yang mengantar seorang hamba menemukan bukti kuat tentang keberadaan Tuhannya. Bahwa ternyata manusia, alam semesta dan kehidupan itu bersifat terbatas termasuk hubungan diantara ketiganya pun bersifat terbatas. Dengan demikian segala sesuatu yang terbatas adalah sifat dari mahluk ciptaan. Fitrah dari mahluk ciptaan yang terbatas selalu membutuhkan sesuatu yang tak terbatas atau azali (tak berawal dan berakhir) sehingga sang pencipta mesti bersifat Qidam (ada sebelum segalanya ada) tak terbatas dan wajibul wujud (keberadaanNya ada melalui segala penciptaannya yang terindera). Allah juga bersifat Baqa’ (kekal tak akan binasa sebagaimana mahluk ciptaannya yang terbatas), Allah tak mungkin menyerupai mahluknya, hal ini dapat dibuktikan dari mahluk-mahluk ciptaan Allah meski sama jenis akan tetapi memiliki beragam perbedaan baik warna kulit, sifat, corak dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa Allah pasti berbeda dengan mahluk ciptaan-Nya. Allah juga tak mungkin bergantung pada mahluknya.


Oleh karena itu gugurlah konsep ‘Trinitas’ bahwa Tuhan beranak, berbapak dan beribu, gugur pula pernyataan bahwa Tuhan satu namun secara bersamaan bisa menjadi anak dan menjadi bapak. Karena pernyataan ini bersifat batil. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan dirinya sendiri, jika demikian berarti dia mahluk sama dengan hasil ciptaannya. Atau pun Tuhan tak mungkin diciptakan oleh yang lain karena itu artinya ia sama dengan mahluk.


Allah pun mengetahui keraguan yang ada di dalam benak orang kafir tentang kebenaran Al-Qur’an, mereka mengira kitab tersebut tak berbeda jauh dengan kitab umat nasrani yang ditulis oleh manusia juga. Maka Allah menjawab tentangan dan keraguan di benak mereka dengan menantang membuat surat yang dapat menyerupainya sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya”.(QS. Al-Hud [11]: 13).


Dan Allah pun menjamin tentang kebenaran Al-Qur’an memang benar-benar bersumber dari Nya. Sebagaimana firman Allah:

“Kitab ini (Al-Qur’an)tak ada keraguan petunjuk bagi orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqoroh [2]:2).


Jaminan Allah atas Al-Qur’an termasuk juga atas pemeliharaannya sampai hari kiamat tak akan dapat dimusnakan, disembunyikan sebagian dan dibiarkan sebagian sebagaimana kitab-kitab sebelumnya termasuk melindungi dari pemalusan ayat-ayat Allah. Mengantar pada penganutnya jalan keselamatan dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang. Sebagaimanaaa firman Allah:

“Sesungguhnya kami telah menurunkan al-Qur’an dan kami pasti akan menjaganya” (QS. Al-Hijr [15]:9).

“Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizing-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (QS. Al-Maidah [5]:15-16).


Dalil-dalil al-Qur’an itulah yang pada akhirnya membuat Yusuf Estef, Felix Siauw dan sejumlah mualaf lainnya memutuskan masuk Islam dari proses berfikir yang cemerlang. Yang mendorong mereka untuk kemudian belajar menjadi seorang mukmin yang tunduk pada aturan Allah. Dengan memperoleh pemahaman yang benar tentang perkara mencari jalan keimanan ini dapat mengantar umat pada suatu ideologi (mabda) yang benar dan melahirkan peraturan-peraturan yang dapat dijadikan dasar bagi bangkitnya Islam baik secara fikrah (ide dasar) maupun thariqah (metode pelaksanaan bagi fikrah).

 

Penutup

 

Allah SWT. adalah sebenar-benar Tuhannya manusia yang patut disembah. Menyembah Allah mengandung pengertian pertama, keimanan atas keberadaan Allah, Malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Qodho-Qodhar dan adanya hari kiamat. Kedua, ketundukan atas segala hukum-hukum Allah yang mengatur alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Karena tidak mungkin seorang hamba mengaku beriman pada Allah namun tak percaya pada hari kiamat. Demikian pula tak mungkin seorang muslim mengaku telah beriman atas rukun iman kepada enam hal yang tersebut diatas namun menolak salah satu rukun Islam misal sholat atau puasa di bulan Ramadhan. Tidak dibenarkan pula bagi umat muslim mengambil sebagian hukum dan mengabaikan hukum Allah lain. Misalkan haji tapi suka riba, muslimah tapi tak berpakaian syariah, ahli puasa dan sholat tapi tak beriman pada seruan berjihad, Islam sebagai akidah tak bisa dipisahkan dengan syariat. Karena jika keduanya dipisahkan maka akan mendatangkan kemudaratan bagi umat manusia, kerusakan alam semesta dan kesesatan bagi umat muslim itu sendiri. Sebagaimana firman Allah:


“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan Kepada Kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan siapa saja yang mengingkari Allah dan Malaikat-Nya dan Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan Hari Akhir maka ia telah sesat sejau-jauh kesesatan” (QS. An-Nisa [4]: 136).


Demikianlah saudaraku yang dirahmati Allah sebagai penutup dapatlah saya tambahkan beberapa hal penting bahwa dalam mencari jalan iman itu semestinya tidak mendasar kepada keturunan, perasaan, atau sikap ikut-ikutan akan tetapi harus melalui beberapa tahapan, jika saya susun pada batas pemahaman saya sebagai berikut;

1. Mencari keimanan melalui proses berfikir yang cemerlang (al fikru al mustanir).

2. Belajar dengan sungguh-sungguh dan ikhlas semata-mata karena hendak menjemput hidayah Allah dan menjaga kualitas iman.

3. Penyerahan secara total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datangnya dari sisi-Nya.

4. Mengajarkannya dalam rangka menjaga ilmu tersebut dan seruan amal ma’ruf nahi mungkar.

Demikianlah saudaraku segala kekurangan baik dalam segi bahasa readaksioanal dan dalam penyampaian materi ini semata-mata karena keterbatasan saya sebagai mahluk ciptaan Allah dan kesempurnaan adalah milik al-Haq Allah SWT.

 

 

Categories: Sudut Pandang

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments